Minggu, 28 Juli 2019

Blog Ki Slamet 42: Atma Kembara
Minggu, 28 Juli 2019 - 16:45 WIB
Puntadewa (Simbol Kebaikan)
"Sangkuni" (Simbol Kejahatan)
“DUA YANG BERBEDA”
By Ki Slamet 42

Apabila bicara soal politik
Beta geli rasa dikitik-kitik
Terasa smakin menggelitik
Segalanya menjadi terusik

Dalam Pendapat pikir beta
Politik itu kutak katik kata
Segala soal bisa saja ditata
Menurut kehendak penata

Bisalah memakai cara licik
Jika perlu pun juga kelenik
Yang benar tiada berkutik
Yang salah justru simpatik

Pemihak penuh mendukung
Bicaranya penuhlah sanjung
 Pada lawan keras berdebat
Bahkan sampai tega nyacat

Mereka pandailah bersiasat
Sangat tangguh berakrobat
Setangguh para sang pesilat
Dalam berkelit dan mencelat

—KSP42—
Bumi Pangarakan, Lido-Bogor
Sabtu, 26 Juli 2019 - 12:50 WIB
 

Minggu, 21 Juli 2019

"KISAH EMPRIT DAN TINGGALANAK 8" Karya Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: Atma Kembara
Selasa, Juli 2019 - 05:22 WIB
 
Image "Burung Tinggalanak" (FOTO: SP)
Burung Tinggalanak
Karya: Ki Slamet  42

Tapi tiba-tiba terjadi perubahan cuaca
Nampaklah langit menjadi gelap gulita
Badai raksasa menggulung tirta segara
Taufan pun guncang kencang bumiloka
 
Kedua putera tinggalanak lemah daya
Mereka berdua terpisahlah dari ibunya
Sedang Emprit tak ketahuan rimbanya
Mereka pun terpisah satu sama lainnya

Dikisahkan Tinggalanak terhempas badai
Tubuhnya terombang-ambing kian kemari
Di tengah besarnya gelombang dan badai
Dia melihat Emprit Jawa sedang beraksi

Berupaya keras ‘tuk menyelamatkan diri
Atasi hembusan sang bayu di atas bahari
Tinggalanak berupaya terbang mendekati
   Ke arah Emprit dengan sepenuhlah energi   

Akhirnya, Tinggalanak dapat juga hampiri
Sang Emprit Jawa, ia pun segera menanyai
Kedua puteranya kepada sang pujaan hati
Seraya lemahkan kepak sayap sebelah kiri:

“Emprit, kedua anakku bagaimana nasibnya
Sungguh aku tak mau pisah dengan mereka
Aku sangat mencintai dan mengasihinya ?!”
Tanyalah tinggalanak, berlinang air matanya

“Tinggalanak, tidak usah perhatikan mereka
 Mereka itu sudahlah besar-besar semuanya
Bahkan tenaga mereka lebih kuat dari kita!
Aku yakin selamat, kini sedanglah cari kita!”

Jawab Emprit kepada Tinggalanak terbata
Suatu jawaban yang sungguhlah di luar kira
Dan, itu sudahlah buat Tinggalanak kecewa
Ternyata Emprit itu teramat egois pikirnya

Emprit yang ’lah menjadi tumpuan hidupnya
Dia tidak miliki rasa empati kepada anaknya
Dan tidak mau memahami perasaan hatinya
Yang amat menyayangi kedua anak-anaknya

Maka dengan perasaan kecewa dia berkata:
“Baik Emprit, jika itu mauanmu, aku tak apa
Tapi aku akan tetap cari kedua sang putera
Tinggalkanlah aku sendiri, dan pergilah sana!

Kelak, dimanapun berada, aku mencari kamu
Aku akan selalu memanggil-manggil namamu
Dimana saja di kampung yang disinggahi aku
Aku mencicit, menjerit-jerit panggil namamu

Dan, bunyi suaraku terdengar menyayat hati
Seperti ditinggal mati oleh orang yang dicintai
Dan roh aku  akan masuklah ke dalam dirimu
Sehingga kau pun akan bersuara seperti aku!”

Bersamaan dengan kata terakhir Tinggalanak 
Kilat petir sambar tubuh burung Tinggalanak
Yang seketika itu juga ia matilah tak berpinak
Emprit hanya dapat menatap dengan hati syak

Beberapalah hari kemudian setelah badai reda
Dan cuaca pun kembali normal bagai sedia kala
Di setiap daerah mulailah ujung Sumatra utara
Terus hingga sampailah ke seluruh pulau Jawa

Burung Emprit, atau burung Tinggalanak itu
Menjerit menyayatlah hati bersuara amat pilu  
Bunyinya seperti panggil-panggil sebuah nama
Agar mengantar kembali ke Mesir, negerinya:

 “Priiit...priiit...priiit...priiit...balekno Mesirrr!”
(Bahasa Jawa artinya: “Prit, prit, prit, prit
(kembalikanlah saya ke Negeri Mesir.”)

Anehnya, setiap daerah, dusun yang disinggahi
Oleh burung Tinggalanak or burung Emprit ini
Pasti ada salah satu warganya meninggal dunia
Sehingga burung ini sampai sekarang dipercaya
Sebagai burung pembawa sial burung kematian
Ada yang menyebutnya sebagai "burung Syetan".

SELESAI

—KSP 42—
Minggu, 21 Juli 2019 – 12:00 WIB
Bumi Pangarakan, Lido – Bogor
 

Jumat, 19 Juli 2019

"KISAH EMPRIT DAN TINGGALANAK 7" Karya Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: Atma Kembara
Sabtu, 20 Juli 2019 - 09;10 WIB

Image "Burung Tinggalanak" (FOTO: SP)
Burung Tinggalanak
Karya Ki Slamet  42

 “Aduhai, Paman! kami sudah lama sekali
Menanti-nanti kehadiran paman di sini!
Selamat datang paman!” sapa anak-anak
Burung Tinggalanak secaralah serempak

“Oya, salam sejahtera untuk kalian semua
Sungguh hati paman gembira dan bahagia
Lihat kalian sudah besar tampan perkasa!”
Tutur Emprit kepada Tinggalanak putera

Saat itu, Tinggalanak tatap Emprit Jawa
Yang baru tiba dengan penuh rasa cinta
Dan ia berharap besar pada Emprit Jawa
Bisa jadi tumpuan hidup bagi keluarganya

Tatapan Tinggalanak yang penuh makna
Membuatlah salah tingkah Emprit Jawa
Maka untuk tutupi kesalahtingkahannya
Burung Emprit Jawa pun cepat berkata:    

“Oya, bagaimana kabar kalian semuanya?
Tentu kalian sudah siap untuk kembara
Terbanglah ke negeri paman, Jawadwipa
Negeri indah di kepulauan Nusantara!”

Sapa Emprit Jawa dijawab anak tertua:
“Paman, kabar kami sehatlah semuanya  
Bahkan amat siap ‘tuk terbang kembara
Ke negeri paman!”  Jawab putera kedua

Burung Tinggalanak pun berkata pula:
“Betul sekali tuan Emprit, sebagaimana
Yang tuan Emprit lihat sendiri, kedua
 Putera kami sangat siap mengembara!”

Setelah menyiapkan segala sesuatunya,
Maka Tinggalanak dan kedua puteranya
Bersama burung Emprit, mereka semua
Berangkat terbang melesatlah ke udara

Tinggalkan negeri mereka Mesir tercinta
 Merantau kembara ke negeri Jawadwipa
Negeri nan elok di kepulauan Nusantara
Negeri yang subur, ramah penduduknya

Tak berpanjang kata-kata, konon cerita
Mereka sampai di ujung utara Sumatra
Perbatasan antara Malaysia - Indonesia
Betapa hati mereka teramatlah gembira

Bersambung

—KSP 42—
Sabtu, 20 Juli 2019 – 09:00 WIB
Bumi Pangarakan, Lido – Bogor