Tampilkan postingan dengan label GURU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GURU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Mei 2018

Ini Kabar Baik Bagi Para Guru di Hari Pendidikan Nasional

Ini Kabar Baik Bagi Paraagi Guru

jpnn.com, PALEMBANG - Kamis, 03 Mei 2018 – 03:30 WIB – PALEMBANG Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang resmi menaikkan tambahan penghasilan pegawai (TPP) seluruh guru dan pegawai kependidikan di Palembang menjadi Rp1.690.000. 

Kenaikan itu terhitung mulai April 2018. Dengan kenaikan itu, maka penghasilan para guru kini mencapai Rp4 juta-Rp5 juta per bulan. 

“Ini wujud perhatian besar Pemkot Palembang terhadap dunia pendidikan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Palembang, Ahmad Zulinto, di sela-sela peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2018 di Lapanagan Utama Gerakan Pramuka Kwarcab Kota Palemabang, Jalan Srijaya, Palembang, Rabu (2/5). 

Selain itu, Pemkot juga meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga pendidik yang berstatus honorer lewat pemberian insentif. “Kami sudah membagikan Surat Keputusan (SK) Wali Kota kepada lebih dari 3 ribu orang. Penerima SK ini diberikan insentif sebesar Rp500 ribu,” ujarnya. 

Hanya memang masih ada sekitar 1.600 guru honorer yang belum menerima SK, karena masa pengabdiannya belum lama. Walau begitu, pihaknya berjanji akan memberikan hal serupa pada 2018-2019 mendatang. “Bahkan saya dengar insentif ini akan dinaikkan menjadi Rp1 juta di tahun depan," imbuhnya. 

Total keseluruhan, lanjut Zulinto, anggaran pendidikan Kota Palemabng sudah mencapai 26,9 persen dari APBD, lebihi amanat UUD. "Artinya, Pemkot Palembang betul-betul serius mengurusi dan memiliki perhatian yang tinggi terhadap sektor pendidikan," ujarnya. 

Dengan anggaran yang cukup besar itu, bisa meningkatkan, baik pembangunan fisik maupun nonfisik di bidang pendidikan. “Saat ini kami telah bangun 179 gedung sekolah bertingkat, dari tingkat SD sampai SMP,” imbuhnya

Senin, 07 Januari 2013

Mau maju ? Ya harus belajar! Oleh Slamet Priyadi



Senin, 07 Januari 2013 - Slamet Priyadi Blog: Terus terang saya katakan bahwa, “orang yang merasa dirinya pintar sebenarnya orang bodoh, dan orang yang pintar adalah orang yang terus menerus mau belajar”.

Ribuan tahun silam pun Imam Malik, ilmuwan besar muslim berkata saat beliau diminta oleh Khalifah Harun al-Rasyid untuk datang mengajar anak-anaknya mendengarkan kitab al-Muwata,
“Ilmu itu datang dari lingkungan kalian. Jika kalian memuliakannya, ia jadi mulia. Jika kalian merendahkannya, ia jadi hina”.

Saat Khalifah memerintahkan kedua putranya untuk hadir ke masjid belajar bersama rakyat, Imam Malik berkata, “tidak apa-apa, asalkan mereka bersedia duduk di posisi mana saja yang lapang bagi mereka, dan tidak boleh melangkahi bahu jamaah lainnya”.

Nah, dari peristiwa yang terjadi ribuan tahun silam itu, ada pelajaran yang bisa kita petik bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar sangat dipengaruhi oleh motivasi dan sikap sugguh-sungguh dari kita, pembelajar. Akan tetapi kebanyakan dari kita belum menyadari sepenuhnya akan hal tersebut. Lihat saja sahabat-sahabat kita saat pelatihan, diklat pengembangan profesi, mahasiswa saat perkuliahan, murid-murid kita di sekolah saat belajar di kelas, bahkan mungkin diri kita sendiri. Senang dan bersukaria sekali jika jam pelatihan, perkuliahan, dan jam belajar kosong. Kegembiraan mereka, atau mungkin kita yang berada di dalamnya laksana orang yang baru bebas-lepas dari hukuman penjara, seperti hewan yang baru lepas dari sangkarnya. Kemudian mereka ngobrol ngalor-ngidul tak ada juntrungnya yang tidak terkait dengan keilmuan, yang penting bagi mereka semua beban dan pikiran menjadi “plong”. Mungkinkah ini cermin dari minusnya atau rendahnya motivasi kita untuk belajar? 

Selain motivasi, prioritas kedua yang ditekankan Imam Malik adalah sikap kita dalam belajar. Belajar harus disikapi secara positif. Kesombongan dan keangkuhan, merasa paling pintar, merasa paling tahu segalanya, merasa paling berkuasa hendaknya jauhkan dan buang dari dalam hati kita. Hal ini sebagaimana dikatakan Imam Malik, “mereka tidak boleh melangkahi bahu jamaah lain, dan bersedia duduk di tempat mana saja yang luang bagi mereka”.

Pikiran-pikiran Imam Malik di atas disepakati juga oleh Lorraine Monroe sebagaimana dikutip oleh Ustadz Mohammad Fauzil Adhim dalam buku tulisannya, Membuka Jalan Ke Sorga.  Kutipannya adalah sebagai berikut. Pertama, membangkitkan high leved of expectation (tingkat harapan yang tinggi. Memberi motivasi yang tinggi kepada siswa agar memiliki target-target, tujuan, dan cita-cita besar. Kedua, menanamkan keyakinan (bilief) yang kokoh dan kuat sebagai tenaga penggerak untuk melakukan yang terbaik (the spirit of excellent).

Dari pemikiran Imam Malik dan Lorraine  Monrou itu, maka bisa kita simpulkan bahwa dalam  belajar harus dilandasi dengan motivasi. Jadi upaya awal yang harus dilakukan dalam belajar adalah memiliki motivasinya terlebih dahulu sebelum mempelajari teknik-tekniknya. Oleh karena motivasi yang kuat menunjukkan karakter yang kuat.(Referensi: Dwi Budiyanto, “Prophetic Learning”. Pro-U Media, 2009, Yogyakarta)

Penulis: Slamet Priyadi - Pangarakan - Bogor       

Jumat, 14 September 2012

Banyak Guru tak Bisa Operasikan Internet

RABU, 01 AGUSTUS - REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA : Kalangan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Tengah menyatakan prihatin masih banyak guru yang gagap teknologi saat mengikuti uji kompetensi guru secara "online". "Dari hasil ujian hari pertama banyak guru yang tidak bisa mengoperasionalkan fasilitas internet, terutama guru yang sudah lanjut usia," kata Kepala LPMP Kalteng Krisnayadi Toendan di Palangka Raya, Rabu. Inilah yang harus disikapi oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota agar bisa memberikan pelatihan dengan memprogramkan kegiatan, sehingga ke depan tidak ada lagi guru yang tidak mengerti kemajuan teknologi moderen ini. Dia menyatakan percuma dan tidak akan ada gunanya dibuat serta diprogramkan pelatihan kalau kemauan para guru untuk belajar dan memahami komputer sama sekali tidak ada, meski hampir semua sekolah di daerah itu telah memiliki komputer. Menurutnya pelaksanaan UKG online itu tidak hanya dalam upaya mengukur kemampuan guru dalam bidang keilmuan, namun juga adalah untuk menguasai informasi teknologi (IT). Seharusnya guru yang sudah memiliki sertifikasi dan menerima tunjangan profesi dapat memanfaatnya tunjangan yang ada untuk meningkatkan kemampuan baik kursus komputer, diklat maupun yang berguna meningkatkan kompetensi. Akan tetapi justru sebaliknya, kebanyakan guru mempunyai pola pikir, tunjangan sertifikasi digunakan hanya untuk kebutuhan konsumtif. Pada pelaksanaan UKG hari pertama terkendala selama satu jam karena harus menunggu server pusat terhubung ke lima titik sekolah penyelenggara, sehingga diambil kebijakan tidak mengganggu jadwal guru angkatan pertama, tidak lagi memakai patokan waktu selama 120 menit. "Yang penting hak guru dengan waktu 120 menit terpenuhi, sehingga molor sampai malam hari, dan diperintahkan di seluruh kabupaten/kota agar menunggu,"tuturnya. Sejak awal memang sudah disadarinya, kebanyakan guru yang belum menguasai komputer, dari pedoman yang ada 15 menit untuk latihan dan arahan, akan tetapi waktu yang diberikan tidak cukup, minimal 35 menit waktu yang dibutuhkan. UKG online baru pertama kali ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertujuan untuk melakukan pemetaan guna memberikan pembinaan kepada guru yang nantinya dinyatakan tidak lulus, bukan untuk menarik tunjangan sertifikasi. Redaktur: Taufik Rachman Sumber: antara Berita Terkait: Uji Kompetensi Diikuti 3.251 Guru di Lombok Katy Perry Ingin Internet Mati Server Kemendiknas Ngadat, Uji Kompetensi Guru Urung Dilakukan Uji Kompetensi Guru tak Pengaruhi Tunjangan Reni: Tak Ada Jaminan UKG Tingkatkan Kompetensi Guru

Jumat, 31 Agustus 2012

"5 ( LIMA ) M" Oleh Slamet Priyadi


SLAMET PRIYADI
( MGMP SENI BUDAYA SMAN 42 – Jumat, 31 Agustus 2012)
1.      Mengajar harus dengan persiapan yang matang baik  persiapan kognitif, afektif dan psikomotorik.
2.      Mengajar harus terencana, terstruktur, interaktif, inovatif, dan efektif. Terutama dalam intonasi, dan artikulasi. Ucapan vocal harus keras dan jelas.
3.      Mengajar harus disajikan melalui pendekatan psikologis, individual dan social
4.      Mengajar harus dengan strategi, metode, dan alat bantu (media) pembelajaran
5.      Mengajar harus ada evaluasi baik evaluasi kepada siswa maupun kepada diri sendiri sebagai guru. Hal ini dilakukan sebagai koreksi ke dalam. Sampai sejauh manakah materi pembelajaran bisa ditangkap siswa, dan sampai sejauh mana pengembangan serta peningkatan kemampuan guru dalam mengajar.

Minggu, 13 November 2011

MENYIKAPI PRILAKU SISWA DI KELAS By Slamet Priyadi

Siswa bercanda di kelas
MINGGU, 13 NOVEMBER 2011 – DENMAS PRIYADI BLOG:  Bicara soal prilaku dan sikap siswa di kelas tentu akan berkait dengan pertanyaan-pertanyaan, apa?, mengapa?, bagaimana?

Bagi sebagian siswa yang terbiasa  bersikap tertib dan mempunyai motivasi kuat untuk belajar, mungkin bukan menjadi permasalahan besar bagi guru yang  mengajar. Akan tetapi bagi sebagian siswa yang mempunyai sikap dan prilaku agak lain, kurang etika, tidak menghormati guru, bahkan melecehkankan guru itu akan lain soalnya. Menghadapi sebagian kecil siswa  seperti ini tentu diperlukan sikap sabar yang lebih dari seorang guru saat mengajar.
 
Berdasar referensi psikologi sikap adalah “kecenderungan seseorang untuk bereaksi terhadap suatu obyek” ( W.A. Gerungan, Sikap Manusia, Perubahan dan Pengukurannya, Bina Aksara, Jakarta 1987 ).  Ini artinya, kecenderungan seseorang untuk merasa senang ataupun tidak senang terhadap suatu obyek yang diterima atau dilihatnya. Berkait dengan sikap belajar yang diperlihatkan siswa di kelas, maka bisa disimpulkan bahwa sikap belajar adalah kecenderungan siswa  untuk berprilaku senang atau tidak senang dalam aktifitas belajar di kelas.

Nah, sekarang kita kembali kepada pokok persoalan, apa dan mengapa sebagian siswa  bisa sampai memperlihatkan sikap yang boleh dikatakan nakal, ugal-ugalan, tidak beretika, bahkan melecehkan guru. Padahal pada setiap upacara bendera hari Senin, tata tertib siswa selalu dibacakan dengan begitu semangat oleh seluruh siswa di sekolah. Akan tetapi rupanya hal ini belum sepenuhnya dihayati oleh sebagian siswa khususnya para siswa yang memiliki sikap dan prilaku yang yang unik tadi.

Berkait dengan sikap dan prilaku siswa baik perasaan senang ataupun tidak senang  yang diperlihatkan siswa terhadap proses pembelajaran yang diberikan guru di kelas hal tersebut pada umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor  berikut:

1.      Faktor kemampuan dan gaya mengajar guru di kelas.
2.      Faktor metode, pendekatan, dan strtegi pembelajaran yang digunakan guru.
3.      Faktor media pembelajaran, alat peraga dan instrument pembelajaran.
4.      Faktor sikap dan prilaku guru, termasuk suara guru, lingkungan kelas, dan manajemen kelas dan berbagai faktor lainnya seperti lingkungan sekolah, lingkungan social, dan lain-lain.

Apabila faktor-faktor tersebut memberi dampak yang baik terhadap siswa  maka akan terbentuk sikap dan prilaku yang baik pula. Dalam arti siswa  merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Begitupun sebaliknya, apabila faktor-faktor tersebut di atas memberi dampak negative dan kurang baik, maka sikap yang terbentuk pada diri siswapun  sikap dan prilaku yang negative pula. Artinya siswa akan memperlihatkan prilaku yang kurang menyenangkan seperti sikap cuek, apatis, tidak aktif, bercanda, mengganggu teman belajarnya dan selalu main-main dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.

Oleh sebab itu seyogyanya guru harus memiliki persiapan yang matang  serta pengetahuan yang cukup menyangkut teori psikologi belajar, pemahaman tentang sikap, metode, pendekatan dan strtegi bagaimana menumbuhkembangkan sikap belajar yang positif kepada siswa, situasi dan kondisi belajar, lingkungan belajar, serta bagaimana bisa meningkatkan sikap belajar siswa.

Sebaiknya guru juga harus mengadakan evaluasi diri dengan mengadakan pengukuran skala sikap untuk mengetahui sampai sejauh mana sikap dan prilaku guru bisa diterima siswa  di kelas dalam hal penyajian dan penyampaian materi pembelajarannya. Pengukuran dan evaluasi diri bagi guru oleh siswa berkait dengan cara penyajian dalam menyampaikan materi pembelajaran dikelas sangat penting diketahui guru untuk mengadakan perbaikan-perbaikan dan meningkatkan kompetensi dan profesionalitas keguruannya. Berikut adalah contoh skala sikap untuk memperoleh pendapat siswa terkait dengan cara penyajian guru dalam mengajar.

SKALA SIKAP :
 Berikan tanda chek list ( V) pada kolom yang sesuai dengan pendapatmu dan berikan pula alasannya!
 No.
Pernyataan
Setuju
Tidak Setuju
Alasan
1.



2.



3.






4.




5.




6.
Menurut saya guru sudah menjelaskan tentang materi dengan jelas.

Guru benar-benar siap untuk menyampaikan materi ini.

Peragaan dan contoh-contoh materi pembelajaran yang di berikan membuat saya mudah menangkap dan memahami materi pembelajaran.

Guru memberikan bimbingan yang jelas untuk memudahkan saya menerima pelajaran

Alat peraga yang digunakan guru sangat membantu saya dalam memahami pelajaran

Guru bersikap ramah, bersahabat selama mengajar di kelas.




( Kepustakaan : 1.  W.A. Gerungan. Sikap Manusia, Perubahan dan Pengukurannya. Bina Aksara-Jakarta 1987.  2.  Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Bina Aksara-Jakarta 1988 ). [<SP>]