Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

"PEMBELAJARAN MUSIK BISA MEREDAM RADIKALISME"



Pengajaran Musik Bisa Mengerem Radikalisme
Para siswa sekolah dasar Islam dan anggota kelompok rebana El-Khis Plosokuning bershalawat dengan menggunakan batu di Kali Kuning, kelurahan Wedomartani, kecamatan Ngemplak, kabupaten Sleman, Yogyakarta, Kamis (26/7/2012). Kegiatan yang diikuti 30 ustad dan 170 orang siswa dari 6 sekolah dasar Islam di wilayah kecamatan Depok dan Ngaglik, kabupaten Sleman ini bertujuan untuk mengisi waktu menunggu buka puasa dengan beribadah sekaligus memperkenalkan musik dari tabuhan benda-benda keras kepada anak-anak. TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.CO, Yogyakarta- Pakar sains dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Taufik Pasiak, menyarankan agar komunitas pesantren memasukkan aktivitas bermusik, meditasi kontemplatif, serta interaksi sosial kepada anak didiknya. “Tiga elemen aktivitas itu bisa mencegah tumbuhnya potensi otak yang gampang menerima gagasan agama radikal,” kata Taufik pada konferensi tentang spiritualisme dan radikalisme di Universitas Islam Negeri Kalijaga, Yogyakarta, Kamis 22 November 2012.

Dia menjelaskan, dari kacamata neurosains, pilihan seorang menerima gagasan radikal atau toleran dipengaruhi oleh struktur otak yang mudah terbentuk karena beberapa jenis persepsi pada tuhan. “Penganut radikalisme agama otaknya didominasi sistem penalaran bernama limbic yang terlalu aktif, sehingga menyebabkannya susah menerima pendapat berbeda dari luar,” ujar penulis buku Tuhan dalam Otak Manusia ini.

Taufik mengatakan, pembentukan struktur otak seperti itu dibantu pengaruh kuat persepsi mengenai sifat tuhan yang otoriter. "Penguatan aktivitas limbic dipupuk persepsi bahwa tuhan itu pemarah dan suka menghukum," kata dia, yang juga Ketua Muhammadiyah Kota Manado.

Sebaliknya, jika sistem pada otak bernama prefrontal mendominasi, gagasan keagamaan akan dikesampingkan. Maka, kata Taufik, perlu keseimbangan antara limbic dan prefrontal sehingga otak terlatih mengenal cara berpikir empati. “Keseimbangan seperti ini ternyata mudah muncul pada orang dengan persepsi mengenai Tuhan yang penuh cinta kasih dan pemaaf,” kata dia.

Menurut Taufik, kemampuan otak mengenal empati bisa terlatih lewat bermain musik, meditasi, dan interaksi sosial. Dia mencontohkan, tokoh sufi Jalaluddin Rumi memanfaatkan tarian dan musik untuk melatih sensitivitas spiritualisme yang menjunjung ide cinta universal. “Kontemplasi melatih orang mendengar dan merasakan hal kecil dan asing sehingga membuat otak lebih mudah menerima perbedaan,” tuturnya.

Pembicara lain, Mark Woodward, memperkuat pendapat Taufik. Pakar konflik agama dari Arizona State University ini mencontohkan kelompok yang menokohkan keturunan nabi (habib) di Front Pembela Islam dengan jemaah salawat Habib Syech. Keduanya punya akar Islam tradisional, berorientasi sufistik, dan radikal. Bedanya, Habib Syech akrab dengan musik. Mark sempat memutar salah satu klip video penampilan musik salawatan Habib Syech di depan peserta konferensi.

Konferensi yang berlangsung hingga Sabtu mendatang ini dihadiri sejumlah pakar keagamaan dari berbagai kampus dalam negeri dan luar negeri.

ADDI MAWAHIBUN IDHOM

Jumat, 01 April 2011

KONSEP " PENDIDIKAN PROGRESIF" JOHN DEWEY ( Analisa strategi pembelajaran ke depan ) By Dra Tisnoarsi - Drs Slamet Priyadi

MGMP SENI BUDAYA SMAN 42 - JUMAT, 1 MARET 2011: Dalam konsep pendidikan lama situasi pembelajaran didominasi oleh guru. Siswa lebih bersifat pasif menerima sepenuhnya materi apa saja yang di sampaikan dan diberikan guru. Kurikulum, mutlak direncanakan, disusun dan dibuat oleh pemerintah dan guru atau sekolah tanpa mengikutsertakan siswa.Berkait dengan hal tersebut berdasarkan studi psikologi dan sosiologi pendikdiian, masyarakat pendidikan umumnya menghendaki perubahan dan hendaknya konsep pendidikan terutama dalam pengajaran agar lebih memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan siswa untuk belajar.

Sehubungan dengat hal tersebut JOHN DEWEY mengemukakan ide dan gagasannya dalam konsep " PENDIDIKAN PROGRESIF " sebagai berikut: 


1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar secara perorangan. ( indivudually learning )
2. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman ( learning experiencing )
3. Guru memberi dorongan semangat dan motivasi bukan hanya pemerintah.
Artinya bahwa guru memberikan penjelasan tentang arah kegiatan pembelajaran yang merupakan kebutuhan siswa.

Ekskul Band SMAN 42
4. Guru mengajaksertakan siswa dalam berbagai aktifitas kehidupan belajar di sekolah yang mencakup pengajaran, administrasi, dan bimbingan.
5. guru memberi arahan dan bimbingan sepenuhnya agar siswa menyadari bahwa hidup itu dinamis dan mengalami perubahan yang begitu cepat.

Berdasarkan fakta dan realitas tersebut sudah seyogyanya sistem pengajaran lama yang bersifat hafalan, verbalistik dan berbagai aktifitas yang mekanistik di kelas tidak diterapkan lagi. Strategi dan metode pembelajaran yang memberi kebebasan siswa dalam melakukan penelitian dan menemukan sesuatu hal utamanya diberikan kepada siswa, berlebih dalam berbagai aktifitas ekstra kurikuler.

STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL By Drs Slamet Priyadi

MGMP SENI BUDAYA SMAN 42 - JUMAT, 1 MARET 2011:     "STRATEGI" pada intinya adalah sketsa umum aktivitas guru dan murid di dalam merealisasikan kegiatan belajar mengajar. Maknanya, interaksi belajar mengajar berlangsung dalam satu sketsa yang dilaksanakan secara bersama-sama oleh guru dan murid. Dengan demikian boleh dirumuskan strategi pembelajaran merupakan "sketsa umum pembelajaran subyek didik" yang tersusun secara sistematik berdasar acuan prinsip-prinsip pendidikan yaitu, strukturisasi urutan atau langkah-langkah pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, pengelolaan kelas, evaluasi, dan waktu yang digunakan untuk mencapai tujuan.

            Strategi pembelajaran melalui pendekatan kontekstual (Contextual Teachinh and Learning) merupakan konsep belajar yang bisa membantu guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan realitas dunia nyata murid, dan mendorong murid membuat interaksi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dalam kaitan ini siswa dapat menyadari sepenuhnya apa makna belajar, manfaatnya,  bagaimana upaya untuk mencapainya dan dapat memahami bahwa yang mereka pelajari bermanfaat bagi hidupnya nanti.
Sehingga mereka akan memposisikan diri sebagai diri mereka sendiri yang membutuhkan bekal hidupnya dan berupaya keras untuk meraihnya.

            Adapun tugas guru dalam pembelajaran kontekstua adalah membantu siswa dalam meraih tujuannya. Artinya guru lebih fokus pada urusan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru dalam hal ini hanya memanage kelas sebagai sebuah tim yang bekerja untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Proses pembelajaran lebih diwarnai student centered ketimbang teacher centered .  Menurut DEPDIKNAS, guru harus melakukan beberapa hal berikut:

1)   Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa,
2)   Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian psikologis dan sosiologis,
3)   Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan     menghubungkan dengan konsep atau teori yang akan dibahas    dalam pembelajaran kontekstual,
4)   Merancang pembelajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki dan lingkungan  hidup mereka.
5)   Melaksanaka evaluasi terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikanbahanrefleksi terhadap rencana pembelajaran dan pelaksanaannya.
          

 Lima bentuk pembelajaran yang penting dalam pendekatan kontekstual yaitu, mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerja sama (cooprating), dan mentransfer (transferring).            
           
•         Mengaitkan (relating)            
           Dalam hal ini guru menggunakan strategi relating ini apabila ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jelasnya, mengkaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.

•        Mengalami (experiencing) 
          Merupakan inti pembelajaran kontekstual dimana mengkaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengalaman maupun pengetahuan informasi baru dengan pengalaman sebelumnya.  Pembelajaran bisa terjadi dengan lebih cepat ketika siswa memanfaatkan (memanipulasi) peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.

•        Menerapkan (applying)
             Ketika siswa menerapkan konsep dalam aktivitas belajar memecahkan masalahnya, guru dapat memotivasi siswa dengan memberikan latihan yang realistic dan relevan.

•       Kerja sama (cooperating)   
         Siswa yang bekerja sama secara kelompok biasanya mudah mengatasi masalah yang komplek  dengan sedikit bantuan ketimbang siswa yang bekerja sama secara individual.  Pengalaman bekerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari bahan pembelajaran tetapi konsisten dengan dunia nyata.

•      Mentransfer (transferring)
          Fungsi dan peran guru dalam konteks ini adalah menciptakan bermacam-macam pengalaman belajar denga fokus pada pemahaman bukan hapalan.

         “STRTEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL” menurut DEPDIKNAS dalam penerapannya mempunyai tujuh komponen utama yaitu:

          1.     Konstruktivisme (Constructivism)  
                  Menekankan bahwa pembelajaran tidak semata sekedar menghafal, mengingat pengetahuan
          Akan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental
          Membangun pengetahuannya, yang didasari oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.

          2.    Menemukan (Inquiry)
                 Menemukan merupakan bagian inti dari aktivitas pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan dari hasil mengingat fakta-fakta melainkan dari hasil menemukan sendiri.  Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi(observation), bertanya (questioning), Mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclusion).
       

        3.   Bertanya (Questioning)
             Bertanya adalah strategi utama pembelajaran berbasis kontekstual. Bertanya bermanfaat untuk :
            • Menggali informasi
            • Menggali pemahaman siswa
            • Membangkitkan daya respon siswa
            • Mengetahui sampai sejauh mana keinginan dan minat siswa
            • Memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru
            • Membangkitkan lebih luas lagi pertanyaan dari siswa, dalam rangka menyegarkan kembali
               Pengetahuan siswa.
   
       4.   Masyarakat belajar (Learning Community) 
             Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran didapat dari hasil kerja sama dengan orang lain.  Hasil belajar diperoleh dari “sharing” antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat belajar akan berjalan baik jika terjadi komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat aktif  dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.

      5.   Pemodelan (Modeling)
            Membahasakan yang ada dalam pemikiran adalah salah satu bentuk dari pemodelan. Jelasnya pemodelan adalah membahasakan yang dipikirkan, memdemonstrasi bagaimana guru menghendaki siswanya untuk belajar dan melakukan sesuatu. Dalam pembelajaran kontekstual,
            Guru bukan satu-satunya model.  Model bisa dirancang dengan melibatkan siswa atau bisa juga mendatangkan dari luar.

     6.   Refleksi (Reflection)
           Refleksi merupakan cara berpikir atu merespon tentang apa yang baru dipelajari.  Berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu.  Pengejawantahannya dalam pembelajaran  adalah guru menyiapkan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang sudah diperoleh pada hari itu.

    7.   Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
          Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa member gambaran mengenai
          perkembangan belajar siswa.  Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembanga
          belajar siswa perlu diketahui guru, agar siswa dapat memastikan bahwa siswa mengalami
          pembelajaran yang benar.  Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan
          kontekstual.  Evaluasi dilakukan terhadap proses maupun hasil.

"PAKEM" ( Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan menyenangkan ) By Dra Tisnoarsi

MGMP SENI BUDAYA SMAN 42 - JUMAT, 1 MARET 2011: Belajar adalah proses individual, meskipun dalam penerapannya di sekolah kebanyakan ditata secara klasikal akan tetapi tetap, perhatian guru kepada siswa harus individual sebab setiap siswa masing-masing memiliki karakter dan ciri khas serta tingkat perkembangannnya sendiri. 
      
Belajar juga merupakan proses social dalam pengertian, belajar di kelas secara bersama-sama dan memecahkan masalah secara kelompok. Ini akan saling menunjang dan saling membelajarkan. Dengan pengertian baik proses pembelajaran secara individual maupun klasikal, keduanya harus dikondisikan dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan, sehingga siswa memiliki kesiapan mental untuk belajar.
      
Belajar juga adalah suatu proses yang berkelanjutan, terus menerus (continuesly) tiada henti. Dalam arti, belajar tentang sesuatu hal adalah sebagai batu loncatan atau pijakan untuk mempelajari hal-hal selanjutnya.
      
Belajar juga merupakan proses membangun makna. Dalam pengertian, setiap proses belajar harus bermakna buat siswa baik pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwanya yang dibentuk dalam suasana yang menyenangkan baik bagi siswa maupun guru selaku pendidik  Lain daripada itu, perubahan paradikma dari Mengajar menjadi Pembelajaran (teaching-learning), di dalam penilaian, proses dan hasil belajar harus berlangsung terus menerus dengan perbaikan-perbaikan pada setiap tahapannya (continues improvement).


Dengan demikian PAKEM memiliki arti dan makna pembelajaran yang dirancang agar dapat mengaktifkan siswa, mengembangkan kreatifitas siswa sehingga efektif akan tetapi tetap menyenangkan. Lain daripada itu, diharapkan juga bisa menciptakan suasana lingkungan belajar yang kondusif, bermakna, dan mampu membekali siswa suatu keterampilan, pengetahuan dan sikap dalam menghadapi kehidupan. Kesimpulannya, PAKEM adalah pembelajaran yang menggunakan berbagai metode, media, melibatkan semua indra, dengan praktik, bekerja dalam tim, memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. PAKEM juga melibatkan multi aspek yaitu, aspek logika, kinestika, estetika, dan etika. Jelasnya pembelajaran ini memerlukan
sekali keaktifan, kekreatifan, keefektifan dari siswa dan guru yang tentunya harus dikondisikan dam suasana lingkungan yang menyenangkan.