Jumat, 31 Mei 2019

"SERASA RUHKU HILANG SEPARUH" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42: "Atma Kembara"
Minggu, 01 Juni 2019 - 05:14 WIB

Image "Slamet Priyadi (Foto: SP)
Slamet Priyadi
“SERASA RUHKU HILANG SEPARUH”
Karya: Slamet Priyadi
 
Saat kenangan itu hadir lagi koyak relung jiwa
Serasa ruhku hilanglah separuh entah kemana
Dan separuhnya ungkitkan lagi kenangan lama
Terasalah nyelekit kambuhkan lagi bekas luka

Tubuhku bersimpuh dalam separuh kesadaran
Harap bongkah kenangan yang lama berserakan
Kembali bersatu untuk semailah rasa kasmaran
Yang teruslah belenggu jiwa, raga, dan pikiran

Padahal sudah lama  kucoba buang duka lara
Kepakkanlah sayap terbang tinggi ke maniloka
Manjakan puaskanlah hasrat kesenangan rasa
Untuk lupakan semua kenangan tapi tak bisa

Kini semakinlah terasa ruhku hilang separuh
Atma  pupus, raib tak bisa lagi berpikir jauh
Nalarku semakin luluh hanya bisa bersimpuh
Sesali diri, mengapa kau hadir lagi berlabuh?

—KSP42—
kamis, 30 Mei 2019 – 22:34 WIB
Bumi Pangarakan, Lido - Bogor
 

Rabu, 29 Mei 2019

"TERPEDAYA MUSLIHAT SANGKUNI" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : Atma Kembara
Rabu, 29 Mei 2019 - 14:02 WIB

Image "Sangkuni" (Foto:SP)

“TERPEDAYA MUSLIHAT SANGKUNI“
Karya : Ki Slamet 42

Tersebut dalam cerita sosoklah Puntadewa
Ia titisan Dewa Darma bernama Yudhistira
Anak Pandu Dewanata dan Kuntinalibrata
Dia Puteralah pertama dari lima bersaudara
Mereka Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa

Yudhistira sabar, bersih, jujur, tak berdusta
Bersifat baik itu terpancar dari perangainya
Tak pernah berprasangka dan selalu percaya
Oleh karenanya ia mudah terkena tipu daya
Di arena judi berulang kali ia melakukannya

Suatu ketika Duryudana putera Destarata
Mengajaknya bermain judi, dia meladeninya
Padahal itu hanyalah taktik licik Duryudana
Judi bertaruh harta negara bahkan istrinya
Tapi Yudhistira tetap saja mau meladeninya

Dalam judi yang penuh tipuan keji Sangkuni
Yudhistira terus mengalami kekalahan pasti 
Walau keempat saudaranya dan sang isteri
Sudah menasehati Yudhistira berulang kali
Ia tiada mau mengindahkannya sama sekali

Malah Yudhistira semakin tak mau perduli
Maka dia terus kalah termakan tipuan judi
Yang dimainkan oleh sang penipu Sangkuni
Hingga lepas dan amblas harta yang dimiliki
Keempat saudaranya termasuk sang isteri

Sang istri tercinta Dewi Drupadi ‘lah lepas
Betapa sungguh malang ia bernasiblah naas
Dewi Drupadi dipermalu si Dursasana buas
Kain kemben penutup tubuh ditarik keras
Di depan pemuka Astina betapalah ngenas

Yudhistira serta adiknya cuma bisa pandang
Bima si sang pemberang melompatlah garang
Melihat Drupadi diperolok sewenang-wenang
Ia sumpah bunuh Dursasana di dalam perang
Dengan hirup darah Dursana dengan senang

Yudhistira menerima kekalahan dengan legawa
Sesuailah aturan judi yang disepakati bersama
Antara Yudhistira, Sangkuni, dan Duryudana
Yudhistirapun serahkan semua harta milikinya
Drupadi dan keempat adiknya hanya terpana

Maka bersama keluarga dan keempat adiknya
Yudhistira kembara ke dalam hutan belantara
Dua belas tahun lamanya penuhlah suka duka
Akibat hanya menuruti nafsu berjudi semata
Mereka terpedaya muslihat Sangkuni durjana

—KSP42—
Selasa, 28 Mei 2019 – 15:58 WIB
Bumi Pangarakan, Lido - Bogor


Minggu, 26 Mei 2019

"HIDAYAH DI BULAN RAMADHAN" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : Atma Kembara"
Senin, 27 Mei 2019 - 09:55 WIB

Image "Ki Slamet 4" ( Foto: SP)

“HIDAYAH DI MALAM RAMADHAN”
Karya : Ki Slamet 42

Duduk di teras rumah di malam kelam
Tuk sirnakan cuaca dingin mencekam
Maka aku reguk secangkir kopi hitam
Pun hisaplah sebatang gudang garam

Aku tatap wajah akaca begitu kelam
Ada cahaya lintas di mata ucap salam
Selamat malam jiwa nan hampa kalam
Atma pun mengembara ke masa silam

Terkuaklah lembaran kisah nan hitam
Yang hingga kini masih mencengkeram
Acapkali muncul tak bisalah diredam
Berkisah mengisilah halam demi halam

Kureguk lagi kopi di atas meja pualam
Serasa hangatkan cuaca dingin malam
Serangga malam bernyanyi kidung alam
Tembang silam nan penuh hitam kelam

Kalong hitam gelayut di pohon salam
Jambu kelutuk merah terus diganyam
Dalam hati aku mengerutu bergumam
Teruskah aku terbelenggu masa silam?

Syukurlah Kasih Tuhan menggenggam
Kalam Tuhan sentuh jiwaku mendalam
Hingga aku baca Alquran setiap malam
Hidayahlah Tuhan di bulan Ramadhan

—KSP—
Bumi Pangarakan, Lido – Bogor
Senin, 27 Mei 2019 – 09:45 WIB