BERITA SENI BUDAYA

Loading...

Jumat, 03 Februari 2012

Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas X 6 SMA Negeri 42 Jakarta Pada Pelajaran Seni Musik Kompetensi Dasar Mengembangkan Gagasan Kreatif Membuat Aransemen Lagu Dengan Model Pembelajaran "P A K E M" Tahun Pelajaran 2011 / 2012

SIKLUS I  Pertemuan ke 3. Selasa, 31 Desember 2012  ( Setelah postes Foto bersama )

 
BAB II   LANDASAN TEORI

SABTU, 4 FEBUARI 2012 - DENMAS PRIYADI BLOG :  
A.           Minat Belajar
Jika kita bertanya kepada seseorang, apakah belajar itu? Tentu jawaban yang diberikan akan bermacam-macam sebanyak orang yang telah kita tanyakan tadi.  Sebagian orang  menyatakan bahwa termasuk perbuatan belajar adalah menghitung, mengerjakan soal-soal, menirukan ucapan kalimat, mengumpulkan perbendaharaan kata, menghafalkan lagu, dan sebagainya.

Berkait dengan pernyataan tersebut, beberapa para ahli memberi batasan  definisi tentang belajar yang penulis kutip dari buku Psikologi Pendidikan  halaman 104 tulisan Drs. Wasty Soemanto, M.Pd sebagai berikut:
1.                  James O. Wittaker :  “Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience”(Wittaker, 1970: 15). Artinya, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana perilaku diubah melalui pelatihan atau pengalaman.
2.                  Cronbach menulis batasan belajar dalam bukunya yang berjudul  Educational Psychology,“Learning is shown by change in behavior as result of experience”.(Cronbach, 1954: p. 47). Artinya, belajar  ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman". (Cronbach, 1954: p. 47)
3.             Howard L. Kingsley: “Learning is the process by which behavior ( in   the broader sense ) is originated or changed through practice or training”. (Kingsley, 1957: 12). Artinya,  belajar adalah proses dimana perilaku (dalam arti luas diubah melalui latihan atau pelatihan". (Kingsley, 1957: 12)
 Dari ketiga batasan belajar tersebut dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, dan pelatihan. Hal ini sejalan dengan definisi belajar dari Slameto (1988: 2) yang mengemukakan bahwa: “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu dengan lingkungannya”.  Abdul Hadis ( 2008: 60 )

Apabila kita simak kemudian kita analisa definisi belajar dari para ahli tersebut di atas, nampaknya semua mempunyai pandangan yang tidak jauh berbeda, bahkan nyaris sama bahwa pengertian belajar adalah perubahan prilaku sebagai hasil dari aktifitas belajar yang diperoleh siswa melalui proses pembelajaran di kelas. Indikasi perubahan prilaku tersebut nampak dari siswa yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi terampil, dari tidak berminat menjadi berminat dan sebagainya. Dengan demikian peran guru dalam perubahan prilaku siswa terhadap mata  pelajaran  yang diampu juga sangat besar.  Oleh karena itu guru dituntut mampu mengajar secara profesional dengan mata pelajaran yang diampunya itu.  Jelasnya, yaitu guru yang mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang aktif, kreatif, efektif, dan dalam suasana yang menyenangkan.  Suatu  kondisi belajar dimana siswa terlibat sepenuhnya dalam proses pembelajaran baik secara fisik maupun  intelektualnya. Dapat dikatakan kondisi proses pembelajaran di kelas yang efektif, adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat yang besar itulah  memotivasi siswa untuk belajar lebih keras lagi. Sebaliknya,  tanpa minat yang besar siswa tidak  akan bergairah untuk  mengikuti aktifitas pembelajaran di kelas  yang sudah barang tentu ini akan berakibat pada kualitas hasil belajarnya.  Sebagai contoh,  siswa menaruh minat yang besar pada salah satu instrument musik gamelan kenong, maka tindakan selanjutnya siswa tersebut akan berupaya  untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang cara menabuh instrument musik kenong tersebut, dan lebih jauh lagi siswa tersebut mempelajari lebih banyak lagi tentang musik gamelan.  Minat merupakan suatu sikap yang ada dalam diri setiap individu  yang sifatnya relatif menetap  pada diri seseorang, sedangkan perhatian sifatnya sementara, terkadang muncul dan terkadang pula tenggelam. Sebagai contoh, dalam  proses pembelajaran di kelas,  siswa sedang asyik mendengarkan gurunya  yang sedang menjelaskan bagaimana cara membuat aransemen lagu, tiba-tiba terdengar bunyi letusan yang keras sekali dari luar kelas, maka dalam sekejap buyar dan hilanglah konsentrasi dan perhatian siswa pada apa yang sedang dijelaskan gurunya tentang membuat aransemen lagu.

Partisipasi dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran di kelas, berkait erat dengan sifat-sifat yang ada pada diri siswa, baik yang bersifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat maupun yang bersifat afektif seperti minat, motivasi, dan rasa percaya diri.

Mengingat begitu pentingnya minat siswa dalam belajar,  penulis berupaya untuk mencoba menganalisa beberapa referensi tentang minat belajar. Wiliam James (1890) dalam Uzer Usman (1992 : 24) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa.  Dengan demikian minat merupakan faktor yang pengaruhnya begitu besar  dalam keterlibatan siswa belajar secara aktif dan kreatif.

Jika  aktivitas siswa dalam belajar menentukan hasil belajar, maka minat belajar yang tinggi pun akan berpengaruh terhadap hasil belajar. Hasil belajar merupakan ketercapaian kompetensi belajar yang dinyatakan dengan nilai, karena itu minat belajar yang tinggi akan diperlihatkan juga dengan nilai mata pelajaran yang memenuhi ketuntasan, bahkan melebihi standar yang ditetapkan atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), setidaknya minat belajar yang tinggi akan dinyatakan dengan ketercapaian kompetensi atau kompetensi dasar pada mata pelajaran tersebut.

 Mursell dalam bukunya “Successful Teaching”, Pada hakikatnya setiap anak berminat terhadap belajar, dan guru sendiri hendaknya berusaha membengkitkan minat anak terhadap belajar (Moh. Uzer Usman, 1992 : 25). Dengan demikian  dasar untuk belajar pada setiap siswa sudah ada, tinggal gurunyalah yang berupaya keras untuk membangkitkan minat belajar siswa pada mata pelajaran yang diampunya.

B.                 Kompetensi Dasar: ”Mengembangkan Gagasan Kreatif Mengaransir Lagu Dengan Beragam Teknik, Media, Dan Materi Musik Non Tradisional”

Pendidikan Seni Musik memiliki peran dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan siswa dalam mencapai kecerdasan  musikalitas emosionalnya.  Dalam arti, pendidikan Seni Musik aktifitasnya  lebih fokus pada pengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.

Adapun  ruang  lingkup  materi  pembelajaran  dalam  kompetensi  dasar mengembangkan gagasan kreatif mengaransir lagu dengan beragam teknik, media dan  materi  musik  dan  lagu,  mencakup tangga  nada musik, notasi angka, notasi balok,  dan  membuat  aransemen  lagu  non tradisional.  Dalam konteks  tersebut, penulis  mengambil  obyek penelitian tindakan kelas dengan materi pembelajaran membuat aransemen lagu non tradisional karya mandiri.

1.                  Pengertian aransemen musik / lagu
Dalam   referensi musik, aransemen  atau transkrip merupakan  salah  satu bentuk ciptaan yang berkait dengan penulisan musik. Aransemen berarti susunan, sedangkan transkrip berarti alih tulis. Sebagai contoh, sebuah komposisi musik yang dipersiapkan untuk pertunjukan konser besar dialihtuliskan menjadi komposisi musik  untuk permainan piano saja, atau bisa juga untuk pertunjukan konser kecil.  Selain itu aransemen atau transkripsi bukan hanya permasalahan teknis semata, melainkan juga permasalahan musikalitas yang berkait dengan kejiwaan seseorang. Aransemen atau transkripsi biasanya dipergunakan dalam bidang penelitian musik, dari musik yang didengar kemudian dibuat dalam bentuk  tulisan musik. Dengan aransemen yang disusun sedemikian rupa dalam karya musik atau lagu maka musik  atau lagu tersebut akan menjadi variatif, harmonis,  dan indah serta enak untuk nikmati.  Jelasnya, aransemen adalah karya musik musik tambahan berupa hiasan yang sengaja dibuat komposisinya untuk menambah variasi estetika dari suatu komposisi  yang sudah ada sebelumnya agar lebih indah dan menarik dalam penyajiannya. Ada dua macam cara untuk membuat aransemen musik / lagu:

a.                  Secara tertulis
Aransemen tertulis bisa berupa penulisan tambahan secara lengkap dengan detail-detailnya, atau bisa juga hanya berupa penambahan yang terbatas pada pemakaian lambang akord. Materi yang dipersiapkan dalam membuat aransemen musik / lagu antara lain berupa notasi lagu asli, imaginasi, kreasi, pengetahuan musik, pengetahuan sifat suara manusia, dan pengetahuan instrument musik.
b.                              Secara tidak tertulis
Penambahan-penambahan notasi hiasan pada aransemen tertulis bersifat bebas, pribadi, spontan, temporer, dan sesaat.

2.                  Langkah-langkah membuat aransemen
a.      Langkah persiapan
Sebagaimana ditulis Ario Kartono dkk dalam buku Kreasi Seni Budaya halaman 63,  langkah-langkah sebelum membuat aransemen adalah mengidentifikasi unsur-unsur yang berkait dengan karya musik, antara lain:
1)      Jenis musik apa yang akan kita buat? Jenis musik, pop, klasik, dangdut, jazz, march, rock,dan lain-lain.
2)      Jenis tempo dan dinamik
3)      Jenis birama dan irama, 2/4, 3/4, 4/4, 6/8 dan lain, irama waltz, keroncong, langgam, seriosa, barat, dan rock.
4)      Jenis tangga nada yang dipergunakan, jenis mayor, minor, atau pentatonic.
5)      Isi dan jiwa lagu, kesan dan pesan yang ingin disampaikan dari lagu atau komposisi yang diperdengarkan.
6)      Unsur-unsur kecil yang lain, seperti legato, staccato, dan fermata.
b.      Materi
Materi dalam membuat karya musik, diperoleh dari pengetahuan musik. Adapun pengetahuan musik yang perlu dikuasai dan dipahami adalah:
1)      Notasi musik
Notasi musik adalah sistem penulisan dalam bidang seni musik. Dengan adanya pengetahuan seni musik diharapkam memiliki kemampuan dan keterampilan menguasai notasi musik  baik notasi angka maupun notasi balok sekali gus mampu  membuat aransemen lagu secara benar.
2)      Transkripsi atau transposisi
Transkripsi ialah mengubah notasi angka ke notasi balok atau sebaliknya, sedangkan transposisi adalah pemindahan nada dasar ke nada dasar yang lain. Sebagai contoh, menaikkan nada dasar E ke nada dasar F (naik setengah nada).
3)      Unsur melodi
Unsur melodi terdiri dari empat macam yaitu; tangga nada, interval, abreviatura, dan ornamentasi atau hiasan nada.
4)      Akord
Akord atau gabungan suara adalah susunan nada yang terdiri dari beberapa nada yang diperdengarkan secara bersamaan. Akord tiga nada disebut tri nada sedangkan akord empat nada disebut catur nada. Perlu diketahui bahwa pada intinya akord hanya terdiri dari akord dasar dan akord tambahan. Akord dasar memiliki tingkatan  tingkat akord  I dan V dari susunan tangga nada yang sesuai dengan kunci nada. Contoh, misalnya nada kunci C
Tangga nada kunci  C  =  C –  D – E –  F –  G –  A –  B  –  C   
Tingkat  akord :               I  -  II – III – IV - V – VI – VII - VIII    
Tangga ke – I              =  C  ( 1,  3,  5 )
Tangga ke – IV           =   F  ( 4,  6,  1 )
Tangga ke – V            =   G  ( 5,  7,  2 )
Dengan demikian, gabungan nada dengan susunan nada berturut-turut adalah :  C, F, G, disebut akord dasar.
Rumusan akord dasar ialah : 
a)                                                                  I – III – V
b)                                                                  IV – VI – I
c)                                                                  V – VII - II
Adapun akord tambahan adalah akord yang memiliki tingkatan akord selebihnya dari akor dasar.  Sedangkan gabungan nadanya adalah sebagai berikut :
Tingkat II  =  D  (termasuk kelompok akord D lainnya)
Tingkat III =  E  (termasuk kelompok akord E lainnya)
Tingkat VI =  A  (termasuk kelompok akord A lainnya)
Tingkat VII = B  (termasuk kelompok akord B)
Gabungan nada dengan komposisi nada pada D, E, A, dan B dinamakan akord tambahan yang bisa berfungsi pula sebagai pengganti akord dasar.

2.      Bentuk aransemen
Bentuk dan kegunaan aransemen menurut Agastya Rama Listya dapat digolongkan dengan bagan sebagai berikut: ( Ario Kartono, 2007: 65) 

A R R A N S E M E N
Aransemen adalah salah satu bentuk ciptaan musik yang berkait dengan penulisan notasi musik baik notasi angka maupun notasi balok

A. ARANSEMEN VOKAL
1. Paduan Suara:
- Sejenis
- Campuran
- Anak-Anak
- Remaja
Dewasa
2. Ansambel Vokal:
- Duet
- Trio
 - Kwartet
3. Kelompok Vokal
B. ARANSEMEN INSTRUMENTAL:
1. Instrumen dawai
- Dipetik
- Digesek
2. Instrumen tiup
- Kayu (wood win)
- Kayu (brass)
3. Instrumen keyboard
4. Instrumen perkusi
5. Perpaduan antara instrumen di atas 
C. VOCAL DENGAN IRINGAN MUSIK
3.      Struktur aransemen
Struktur aransemen musik meliputi :
a.       Introduksi / intro,
Fungsi dari introduksi atau intro adalah sebagai pengantar ke lagu pokok. Panjang dari intro idealnya adalah 4 sampai 12 birama. Hal ini oleh karena Intro yang terlalu pendek memungkinkan penyanyi belum sempat mengenal suasana lagu, sedangkan intro yang terlalu panjang juga akan membosankan bagi pendengarnya.
b.      Lagu pokok,
Dalam penggarapan aransemen, secara proporsional  ciri melodi lagu asli harus tetap dipertahankan, jangan sampai aransemen yang dibuat justru mengaburkan melodi aslinya, prinsip azas kreatifitas seseorang harus tetap dijaga.
c.       Interlude
Interlude merupakan melodi sisipan atau  melodi perantara sebelum masuk ke  bagian lagu pokok. Bersifat lebih bebas dan lebih kreatif dalam pengembangan pola ritme, tonalitas, pemilihan warna suara dan harmoni. Akan tetapi perlu diingat, jangan sampai pada bagian pengembangan ini kreatifitas dan ekspresifitas melodi menjadi berlebihan karena bisa mengakibatkan anti klimaks.
d.      Pengembangan
Dalam struktur  aransemen musik, pengembangan adalah memperluas potensi-potensi kreasi yang telah diupayakan muncul pada bagian interlude. Pengembangan atau perluasan potensi-potensi dilakukan dengan cara merubah tempo, pengulangan, nuansa lagu, dan sebagainya secara proporsional.
e.       Coda
Coda adalah bagian yang ditambahkan pada akhir sebuah aransemen lagu dengan tujuan menghasilkan titik klimaks.
f.       Transportasi / Transpose 
Transportasi atau transpose adalah mengalihkan posisi tangga nada. Contoh, seseorang menyanyikan sebuah lagu dengan nada dasar G terlalu tinggi maka diturunkan ke nada dasar F.  Jadi, yang diganti atau dialihkan tinggi rendah nadanya bukan bentuk ciptaannya. 
Berkait dengan hal tersebut, syarat untuk menjadi seorang arranger, sebagaimana yang dikemukakan Agastya Rama Listya dalam “Aransemen Lagu-Lagu Nasional” adalah sebagai berikut:
1)      Memilih dan menetapkan lagu yang baik.
2)      Mengalisa syair atau melodi lagu.
3)      Menetapkan bentuk aransemen yang dibuat
4)      Menentukan harmoni lagu berdasarkan keinginan penggubah lagu melalui melodi dan lirik lagu.
5)      Mengenal kemampuan teknis, karakter, dan ambitus suara setiap individu dalam kelompok vocal yang membawakan ciptaan aransemen.
6)      Membuat alur melodi yang baik setiap kelompok vocal sehingga terdengar  bernyanyi. (Ario Kartono, 2007: 66)
Adapun secara teknis, untuk membuat aransemen lagu bisa dilakukan dengan notasi angka dan notasi balok. 

C.                Pembelajaran Model Pakem 
PAKEM merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki paradikma baru dalam sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan pengguna lulusan serta memiliki suasana akademik yang besar dalam penyelenggaraannya. PAKEM  adalah  singkatan dari “Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan”.  
1.                  Aktif
Aktif yang dimaksudkan di sini adalah bahwa proses pembelajaran seni musik yang dilakukan guru di kelas harus dapat menciptakan suasana dimana siswa aktif bertanya, aktif bereksplorasi, dan berani mengemukakan gagasan dan pendapatnya melalui kreatifitas musiknya secara bebas. Dalam konteks ini, belajar music harus merupakan suatu proses aktif dari siswa dalam membangun pengetahuannya, dan bukan sekedar proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru tentang materi pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pemikiran Vigotsky bahwa ada keterkaitan antara bahasa dan pikiran.  Dengan aktif berbicara, berdiskusi, berkreasi, dan berekspresi untuk  mengemukakan ide serta gagasan pemikirannya, siswa akan lebih dapat mengerti dan memahami konsep materi yang dipelajari. Pemikiran senada juga dikemukakan Katz dan Chard bahwa siswa perlu keterlibatan fisik untuk mencegah mereka dari kelelahan dan kebosanan. Siswa yang lebih banyak duduk diam akan menghambat perkembangan motorik, akademik, dan kreatifitasnya. (Ella Sulhah, 2009: 4). Oleh karena itu, proses pembelajaran seni music harus melibatkan segenap aspek kepribadian siswa yang mencakup pikiran, perasaan, bahasa tubuh, pengetahuan, sikap, dan keyakinan. Berkait dengan hal tersebut, menurut Magnesen dalam Dryden bahwa dalam belajar siswa akan memperoleh 10 % dari apa yang dibaca, 20 % dari apa yang didengar, 30 % dari apa yang dilihat, 50 % dari apa yang dilihat dan didengar, 70 % dari apa yang dikatakan, dan 90 % dari apa yang dikatakan dan dilakukan. (Dryden, 2000: 100)
1.                  Kreatif
Kreatif artinya memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk berkreasi. (Silberman, 1996: 9) dalam (Sri Gianti, 2009: 6). Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran seni musik sudah barang tentu akan membentuk siswa menjadi kreatif, artinya siswa yang mampu menghasilkan generasi kreatif, yang berguna bagi dirinya juga buat orang lain.  Kreatif di sini juga dimaksudkan agar guru mampu menciptakan berbagai aktifitas belajar seni music yang beragam sehingga memenuhi tingkat kemampuan siswa.  Menurut Semiawan daya kreatif tumbuh dalam diri setiap individu dan merupakan pengalaman yang paling mendalam dan unik bagi seseorang (Syaifurrahman, 2009: 6). Tentunya untuk menumbuhkan daya kreatif dalam pembelajaran seni musik  dibutuhkan suasana yang menggambarkan kemungkinan tumbuh dan berkembangnya daya kreatif tersebut. Suasana belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam mengemukakan gagasan dan ide-idenya tanpa harus memiliki perasaan takut disalahkan oleh guru yang bersangkutan. Suasana kondusif dan kreatif seperti itulah yang dimaksud dalam PAKEM.
1.                  Efektif
Terciptanya pembelajaran yang efektif muncul karena pembelajaran yang dilaksanakan dapat menumbuhkan daya kreatif siswa sehingga dapat membekali siswa dengan berbagai kemampuan. Artinya siswa dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya sehingga menghasilkan kemampuan yang beragam.
Pembelajaran yang efektif hanya bisa didapat dengan prilaku atau tindakan  nyata (learning by doing) baik dari guru maupun siswa. Di sinilah peran dari seorang guru, bagaimana Ia mampu membuat scenario pembelajaran di kelas agar proses pembelajaran berjalan sebagaimana tersebut di atas.
1.                  Menyenangkan
Pembelajaran yang menyenangkan adalah suatu kondisi pembelajaran yang didisain sedemikkian rupa oleh guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di kelas, di mana siswa dan guru berinteraksi secara akrab, sehingga siswa bisa berkonsentrasi penuh dan pusat perhatiannya terfokus pada belajar.  Berdasar hasil penelitian, tingginya perhatian siswa terbukti dapat meningkatkan hasil belajar. (Purnama,M.pd, 2009: 7)
Berdasar uraian tersebut, dapat dideskripsikan bahwa PAKEM, “Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan” adalah suatu proses pembelajaran di mana siswa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran yang dapat mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka melalui berbuat atau mempraktikkan langsung materi pembelajaran. Dalam kata lain, guru turut serta berperan aktif untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan model pembelajaran. Jelasnya, guru memberi dorongan semangat dan  motivasi agar siswa menemukan caranya sendiri dalam mengatasi masalahnya, berjiwa mandiri. Berkait  dengan penelitian tindakan kelas yang akan penulis lakukan, maka tak ragu lagi penulis mengambil judul penelitian adalah :
Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas X 6
SMA Negeri 42 Jakarta Pada Pelajaran Seni Musik  Kompetensi Dasar Mengembangkan Gagasan Kreatif Membuat Aransemen Lagu Dengan  Pembelajaran Model PAKEM Tahun Pelajaran  2011 / 2012”

video

1 komentar:

  1. @ Pembelajaran yang menyenangkan adalah suatu kondisi pembelajaran yang didisain sedemikkian rupa oleh guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di kelas, di mana siswa dan guru berinteraksi secara akrab, sehingga siswa bisa berkonsentrasi penuh dan pusat perhatiannya terfokus pada belajar.

    BalasHapus