BERITA SENI BUDAYA

Loading...

Selasa, 13 Maret 2012

"JURNAL PTK SENI MUSIK" By Slamet Priyadi


MENINGKATKAN  MINAT  BELAJAR  SISWA  PADA MATA PELAJARAN SENI MUSIK  DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MODEL  ”P A K E M”


SLAMET PRIYADI
SMA Negeri 42 Jakarta  


ABSTRAK

             Faktor motivasi secara umum dan motivasi belajar secara khusus merupakan gejala aktivitas jiwa yang sangat diperlukan oleh manusia, dan peserta didik khususnya. Oleh karena itu guru sebagai kunci pembuka pintu perbaikan pendidikan berupaya keras untuk meningkatkan minat dan memotivasi belajar siswa, dan itu merupakan bagian dari tugas guru. Memberi dorongan semangat dan motivasi belajar pada siswa menjadi sangat penting terutama untuk menumbuhkan rangsangan semangat serta minat belajar siswa terhadap mata pelajaran seni musik. Minat belajar yang tinggi akan berpengaruh terhadap sejauh mana upaya siswa dalam mencapai kompetensinya pada mata pelajaran tersebut.

              Dengan berbagai macam alasan antara lain, karena tidak berbakat, penyampaian materi oleh guru yang tidak menarik, terlalu verbalistik adalah faktor penyebab mata pelajaran seni musik kurang diminati oleh siswa yang pada akhirnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa semakin menurun. Hal ini sebagaimana diperlihatkan oleh hasil yang relatif kurang atau tidak mencapai ”Kriteria Ketuntasan Minimal” (KKM).

              Penyampaian materi pembelajaran seni musik dengan menggunakan pendekatan  pembelajaran model PAKEM, yaitu model pembelajaran yang proses aktifitas pembelajarannya dikondisikan agar dalam suasana yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan merupakan alternatif yang tepat dan sesuai untuk mata pelajaran seni musik yang diharapkan dapat meningkatkan minat belajar yang sekali gus juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap pelajaran seni musik. Kemampuan skill secara kognitif, afektif maupun psikomotorik untuk memberikan dorongan semangat dan motivasi pada siswa untuk belajar, juga merupakan kompetensi yang harus dimiliki bagi seorang guru yang profesional. Dengan dukungan minat dan semangat belajar yang besar baik dari siswa maupun guru, maka diharapkan belajar seni musik akan lebih menarik dan menyenangkan, sehingga kemampuan pemahaman serta hasil belajar siswa akan lebih meningkat lagi.

              Berbasis pada analisa data yang diperoleh dalam tindakan kelas dengan menggunakan pendekatan pembelajaran model PAKEM terdapat peningkatan minat belajar siswa pada ”Kompetensi Dasar” : Mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu. Peningkatan minat siswa dapat dilihat dari hasil kuisioner berkaitan dengan ketertarikan siswa pada mata pelajaran seni musik karena seni musik kajian materinya menanamkan sikap apresiatif menghargai terhadap hasil karya orang lain dari 22 siswa = 59,40 % menjadi 35 siswa = 94,50 %. prosentase tersebut dihitung dari jumlah keseluruhan siswa yang merespon pernyataan kuisioner dari jumlah keseluruhan sebanyak 39 siswa.

Proses pembelajaran pada KD : Mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu yang disampaikan dengan menggunakan pembelajaran model PAKEM, dalam  Peningkatan aktivitas kelas secara keseluruhan, di siklus I =  28,20 % , tetapi Di siklus II aktivitas kelas terjadi peningkatan dari 33,33 % menjadi 46,15 %. Pada tahap berikutnya dalam proses pembelajaran pada KD : Mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu yang disampaikan dengan menggunakan pembelajaran model PAKEM terus mengalami peningkatan hasil belajar. Hal tersebut dapat dilihat dari prosentase ketuntasan belajar yang meningkat, nilai rata-rata pretes sebelum siklus 51,97 pada postes siklus I meningkat nilai rata-rata menjadi 73,23 dan meningkat lagi menjadi rata-rata nilai siswa adalah 85,25 pada postes di siklus II.




MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA PADA PELAJARAN SENI MUSIK
  DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN MODEL “P A K E M”


B A B  I   P E N D A H U L U A N

A.      Latar Belakang Masalah

Ketika teori behaviorism mendominasi system pembelajaran di sekolah kita,  model pembelajaran teacher centered yang cenderung menganggap siswa bagaikan kertas putih menjadi ciri utama. Dalam pembelajaran model ini, ciri utamanya siswa menjadi pasif karena proses pembelajaran banyak didominasi guru dengan metode ekspositorinya yang menjadikan pelajaran seni budaya, seni musik menjadi tidak menarik dan membosankan karena disajikan dan disampaikan dengan  cara  verbalistik, hafalan semata. Guru sangat memonopoli proses pembelajaran sehingga siswa tidak tumbuh dan berkembang kreatifitasnya. Padahal pengembangan pengajaran secara seimbang antara belahan otak kiri dan otak kanan harus dilakukan secara terpadu dan menyeluruh.

Fakta di lapangan, dalam proses pembelajaran di kelas ternyata tidak selamanya berjalan sesuai dengan yang kita kehendaki, tidak berjalan lancar, bahkan bisa dikatakan menemukan kegagalan. Banyak hal yang menyebabkan proses aktifitas pembelajaran gagal. Hal ini bisa jadi karena ketidakoptimalan guru dalam penyampaian pembelajaran.Salah satu indikator ketidakefektifan atau kegagalan aktifitas pembelajaran seni musik, yakni siswa kurang memahami dengan materi yang disampaikan oleh guru. Kemungkinan besar hal ini terjadi oleh karena siswa kurang konsentrasi dalam mengikuti materi pembelajaran sehingga mereka tidak bisa menerima dan mencerna materi yang disampaikan oleh guru. Oleh karena dari kurangnya konsentrasi itu pula yang berakibat prilaku siswa di kelas menjadi pasif, tidak aktif, bahkan apatis. Seharusnya justru siswa bersemangat dan mempunyai minat yang besar untuk mengikuti proses pembelajaran seni musik. Ketidakefektifan atau kegagalan pembelajaran seni musik ini tidak bisa dilihat dari aspek siswa saja, melainkan ada peran guru yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses pembelajaran seni musik di kelas. Kemungkinan besar dalam penyampaian materi pembelajaran seni musik guru kurang optimal, monoton, dan tidak variatif, hal ini oleh karena  guru tidak siap dalam melaksanakan skenario pembelajaran sehingga siswa menjadi bosan, apatis dalam mengikuti aktifitas pembelajaran. Dalam konteks ke depan hal tersebut tentunya sangat berdampak buruk pada kualitas pembelajaran seni musik.

Mengacu pada masalah tersebut di atas, maka penulis akan menggunakan pendekatan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) untuk diterapkan dalam proses kegiatan pembelajaran seni musik. Dengan harapan, penerapan model  PAKEM dapat meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran seni musik, dan siswa menjadi lebih termotivasi lagi untuk mengikuti pembelajaran seni musik secara aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan mengambil judul : “Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas X 6 SMA Negeri 42 Jakarta  Pada Pelajaran Seni Musik Kompetensi Dasar Mengembangkan Gagasan Kreatif Membuat Aransemen Lagu Dengan Model Pembelajaran PAKEM Tahun Pelajaran 2011/2012”
        
B.      Rumusan Masalah

1.          Apakah penggunaan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dapat meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran seni musik kompetensi dasar mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu  di kelas X 6 SMA Negeri 42 ?
2.          Bagaimanakah prosedur penggunaan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) itu,  efektif untuk meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran Seni Musik di kelas X 6 SMA Negeri 42 ?

C.      Pemecahan Masalah

PP Nomor 19  tahun  2005 mengamanatkan: Pendidikan Seni Budaya / Seni Musik di berikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan  perkembangan  peserta  didik yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk  kegiatan  berekspresi,  berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: “belajar dengan seni”, “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni.” Dengan demikian Pendidikan Seni Musik memiliki peran dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan siswa dalam mencapai kecerdasan  musikalitas emosionalnya.  Dalam arti, pendidikan Seni Musik aktifitasnya  lebih fokus pada pengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Oleh karena itu guru  yang merupakan pemegang kunci utama untuk membuka pintu perbaikan pendidikan dan pengajaran di sekolah dituntut untuk professional. Dalam arti, mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengelola kelas, meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran seni music, inovatif dan peka terhadap perkembangan zaman.  Bagi seorang guru inovasi dalam proses pembelajaran itu penting dan sangat dibutuhkan. Guru yang inovatif adalah guru yang terus berupaya mencari, menemukan dan menciptakan hal-hal baru dalam cara mengajarnya agar proses pembelajaran di kelas dapat berjalan lebih baik sehingga mampu meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran seni musik  sesuai dengan tuntutan zaman, bersifat kontekstual dan student centured.

Proses pendekatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru yang inovatif tentunya akan mampu memberikan pengalaman yang berguna bagi siswa. Adapun pendekatan pembelajaran inovatif yang mendukung untuk mengembangkan keterampilan psikomotorik adalah apa yang dikenal dengan  Active Learning, atau pembelajaran aktif, yaitu suatu pendekatan pembelajaran berdasarkan pada prinsip bahwa cara belajar terbaik bagi siswa adalah aktif melakukan sesuatu dengan menggunakan semua indera yang dimilikinya. Aktif di kelas maupun di luar kelas dengan mengeksplorasi pengalaman belajarnya dan mengekspresikan imaginasi kreatifnya baik secara lisan maupun tulisan. Keterlibatan aktifitas guru dan siswa dengan aktif, kreatif dan inovatif tentunya akan mendorong siswa untuk berpikir lebih keras lagi dan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang lebih menyenangkan baik bagi guru maupun siswa. Memang, pelajaran seni music di sekolah aktifitas pembelajarannya  dirancang untuk menciptakan suasana yang  menyenangkan. Di sini guru hanya berperan  sebagai fasilitator melalui kegiatan apreasi,ekspresi,kreasi,dan rekreasi. Artinya, belajar dengan seni, belajar melalui seni dan belajar tentang seni.

D.      Tujuan  Penelitian
1.    Untuk meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran seni musik melalui  penggunaan model pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) kompetensi dasar mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu.
2.    Untuk mengetahui ketepatan dan keefektifan penggunaan model pembelajaran aktif, kreatif,efektif,dan menyenangkan (PAKEM) dalam meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran seni musik kompetensi dasar mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu.
3.    Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran seni  musik.
4.    Untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran seni musik.
5.    Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran seni musik.

E.      Manfaat Penelitian
1.    Manfaat Teoritis
a. Untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang penggunaan model    pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM) dalam meningkatkan minat belajar siswa pada materi   pembelajaran seni musik  pokok bahasan mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu.
b.  Sebagai dasar pengetahuan dalam mengembangkan penelitian- penelitian  pada masalah selanjutnya.

2.   Manfaat Praktis
a.     Manfaat Bagi Siswa
1)       Meningkatkan kemampuan dan keterampilan pada materi pembelajaran   seni musik tentang bagai mana mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu,
2)        Mendidik siswa untuk berpikir kritis, kreatif, tertib, dan memiliki sikap disiplin  dan bertanggung jawab.
3)    Dengan memberi materi pembelajaran seni musik menggunakan model     pembelajaran PAKEM,  siswa lebih dapat tertarik, termotivasi dan dapat memahami materi membuat aransemen lagu.

b.       Manfaat Bagi Guru
1)   Menambah wawasan ilmiah dalam meningkatkan kompetensi diri menuju profesionalisme.
2)    Mengetahui kesulitan siswa dalam mengerjakan membuat aransemen
lagu pada  pembelajaran seni musik tentang mengungkapkan gagasan kreatif
membuat aransemen lagu.
3)   Pendekatan pembelajaran  PAKEM sebagai acuan guru dalam meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran seni musik kompetensi dasar mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu.

c.        Manfaat Bagi Sekolah 
1)   Sebagai bahan kajian dan masukan untuk peningkatan mutu sekolah.
2)   Mewujudkan misi dan visi sekolah sebagai Institusi yang selalu berupaya    untuk meningkatkan prestasi akademik.
3)   Memperbanyak media pembelajaran yang kreatif dan inovatif sebagai sarana yang aktif, efisien, dan menyenangkan.
4)   Dengan menggunakan model pembelajaran PAKEM   dalam proses pembelajaran seni musik, sekolah dapat mengembangkan metode pembelajaran dan dapat dijadikan pusat sumber belajar bagi sekolah lain dalam mencari solusi dari kesulitan-kesulitan atau masalah- masalah pembelajaran di kelas.

B A B   I I  
L A N D A S A N   T E O R I

A.    Minat Belajar
Beberapa ahli memberi batasan  tentang belajar yang penulis kutip dari buku Psikologi Pendidikan  halaman 104 tulisan Drs. Wasty Soemanto, M.Pd sebagai berikut:

1.     James O. Wittaker :  “Learning may be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience”(Wittaker, 1970: 15). Artinya, belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana perilaku diubah melalui pelatihan atau pengalaman.
2.     Cronbach menulis batasan belajar dalam bukunya yang berjudul  Educational Psychology seperti berikut, “Learning is shown by change in behavior as result of experience”    ( Cronbach, 1954: p.47 ). Artinya, belajar  ditunjukkan oleh perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman". ( Cronbach, 1954: p. 47 )
3.     Howard L. Kingsley: “Learning is the process by which behavior ( in the broader sense ) is originated or changed through practice or training”. ( Kingsley, 1957: 12 ). Artinya,  belajar adalah proses dimana perilaku (dalam arti luas diubah melalui latihan atau pelatihan". ( Kingsley, 1957: 12 )

Dari ketiga batasan belajar tersebut dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, dan pelatihan. Hal ini sejalan dengan definisi belajar dari Slameto ( 1988: 2 ) yang mengemukakan bahwa: “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah prilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu dengan lingkungannya”.  Abdul Hadis ( 2008: 60 ) Apabila kita simak definisi belajar dari para ahli tersebut di atas, nampaknya semua mempunyai pandangan yang tidak jauh berbeda, bahkan nyaris sama bahwa pengertian belajar adalah perubahan prilaku sebagai hasil dari aktifitas belajar yang diperoleh siswa melalui proses pembelajaran di kelas. Indikasi perubahan prilaku tersebut nampak dari siswa yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu, tidak terampil menjadi terampil, dari tidak berminat menjadi berminat dan sebagainya. Dengan demikian peran guru dalam perubahan prilaku siswa terhadap mata  pelajaran  yang diampu juga sangat besar.  Oleh karena itu guru dituntut mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang aktif, kreatif, efektif, dan dalam suasana yang menyenangkan.  Suatu  kondisi belajar dimana siswa terlibat sepenuhnya dalam proses pembelajaran baik secara fisik maupun  intelektualnya. Dapat dikatakan kondisi proses pembelajaran yang efektif, adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat yang besar itulah  memotivasi siswa untuk belajar lebih keras lagi. Sebaliknya,  tanpa minat yang besar siswa tidak  akan bergairah untuk  mengikuti aktifitas pembelajaran di kelas  yang sudah barang tentu ini akan berakibat pada kualitas hasil belajarnya. 

             Mengingat begitu pentingnya minat siswa dalam belajar,  penulis berupaya untuk mencoba menganalisa beberapa referensi tentang minat belajar. Wiliam James (1890) dalam Uzer Usman (1992 : 24) melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa.  Dengan demikian minat merupakan faktor yang pengaruhnya begitu besar  dalam keterlibatan siswa belajar secara aktif dan kreatif. Jika  aktivitas siswa dalam belajar menentukan hasil belajar, maka minat belajar yang tinggi pun akan berpengaruh terhadap hasil belajar. Hasil belajar merupakan ketercapaian kompetensi belajar yang dinyatakan dengan nilai, karena itu minat belajar yang tinggi akan diperlihatkan juga dengan nilai mata pelajaran yang memenuhi ketuntasan, bahkan melebihi standar yang ditetapkan atau Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), setidaknya minat belajar yang tinggi akan dinyatakan dengan ketercapaian kompetensi atau kompetensi dasar pada mata pelajaran tersebut. Mursell dalam bukunya “Successful Teaching”, Pada hakikatnya setiap anak berminat terhadap belajar, dan guru sendiri hendaknya berusaha membangkitkan minat siswa terhadap belajar (Moh. Uzer Usman, 1992 : 25). Dengan demikian  dasar untuk belajar pada setiap siswa sudah ada, tinggal gurunyalah yang berupaya keras untuk membangkitkan minat belajar siswa pada mata pelajaran yang diampunya.

B.        Kompetensi Dasar: ”Mengembangkan Gagasan Kreatif Mengaransir Lagu Dengan Beragam Teknik, Media, Dan Materi Musik Non Tradisional”

Pendidikan Seni Musik memiliki peran dalam pembentukan pribadi siswa yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan siswa dalam mencapai kecerdasan  musikalitas emosionalnya.  Dalam arti, pendidikan Seni Musik aktifitasnya  lebih fokus pada pengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Adapun  ruang  lingkup  materi  pembelajaran  dalam  kompetensi  dasar mengembangkan gagasan kreatif mengaransir lagu dengan beragam teknik, media dan  materi  musik  dan  lagu,  mencakup tangga  nada musik, notasi angka, notasi balok,  dan  membuat  aransemen  lagu  non tradisional.  Dalam konteks  tersebut, penulis  mengambil  obyek penelitian tindakan kelas dengan materi pembelajaran membuat aransemen lagu non tradisional karya mandiri.

1.         Pengertian aransemen musik / lagu
Dalam   referensi musik, aransemen  merupakan  salah  satu bentuk ciptaan yang berkait dengan penulisan musik. Sebagai contoh, sebuah komposisi musik yang dipersiapkan untuk pertunjukan konser besar dialihtuliskan menjadi komposisi musik  untuk permainan piano saja, atau bisa juga untuk pertunjukan konser kecil.  Aransemen biasanya dipergunakan dalam bidang penelitian musik, dari musik yang didengar kemudian dibuat dalam bentuk  tulisan musik. Dengan aransemen yang disusun sedemikian rupa dalam karya musik atau lagu maka musik  atau lagu tersebut akan menjadi variatif, harmonis,  dan indah serta enak untuk nikmati. Ada dua macam cara untuk membuat aransemen musik/lagu: a.Secara tertulis.  Aransemen tertulis bisa berupa penulisan tambahan secara lengkap dengan detail-detailnya, atau bisa juga hanya berupa penambahan yang terbatas pada pemakaian lambang akord. Materi yang dipersiapkan dalam membuat aransemen musik / lagu antara lain berupa notasi lagu asli, imaginasi, kreasi, pengetahuan musik, pengetahuan sifat suara manusia, dan pengetahuan instrument music, dan b. Secara tidak tertulis yaitu aransemen music berupa penambahan-penambahan notasi hiasan pada aransemen yang bersifat bebas, pribadi, spontan, temporer, dan sesaat.

2.         Langkah-langkah membuat aransemen
a.        Langkah persiapan
Sebagaimana ditulis Ario Kartono dkk dalam buku Kreasi Seni Budaya halaman 63,langkah-langkah sebelum membuat aransemen adalah mengidentifikasi unsur-unsur yang berkait dengan karya musik, antara lain:
1)       Jenis musik apa yang akan kita buat? Jenis musik, pop, klasik, dangdut, jazz, march, rock,dan lain-lain.
2)     Jenis tempo dan dinamik
Jenis birama dan irama, 2/4, 3/4, 4/4, 6/8 dan lain, irama waltz, keroncong,   langgam, seriosa, barat, dan rock.
3)               Jenis tangga nada yang dipergunakan, jenis mayor, minor, atau pentatonic.
4)     Isi dan jiwa lagu, kesan dan pesan yang ingin disampaikan dari lagu atau komposisi yang diperdengarkan.
5)       Unsur-unsur kecil yang lain, seperti legato, staccato, dan fermata.

C.      Pembelajaran Model Pakem 

PAKEM merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki paradikma baru dalam sistem pengelolaan pendidikan di Indonesia karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dan pengguna lulusan serta memiliki suasana akademik yang besar dalam penyelenggaraannya. PAKEM  adalah  singkatan dari “Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan”. 

1.       Aktif
Aktif yang dimaksudkan di sini adalah bahwa proses pembelajaran seni musik yang dilakukan guru di kelas harus dapat menciptakan suasana dimana siswa aktif bertanya, aktif bereksplorasi, dan berani mengemukakan gagasan dan pendapatnya melalui kreatifitas musiknya secara bebas. Dalam konteks ini, belajar music harus merupakan suatu proses aktif dari siswa dalam membangun pengetahuannya, dan bukan sekedar proses pasif yang hanya menerima penjelasan dari guru tentang materi pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pemikiran Vigotsky bahwa ada keterkaitan antara bahasa dan pikiran.  Dengan aktif berbicara, berdiskusi, berkreasi, dan berekspresi untuk  mengemukakan ide serta gagasan pemikirannya, siswa akan lebih dapat mengerti dan memahami konsep materi yang dipelajari. Pemikiran senada juga dikemukakan Katz dan Chard bahwa siswa perlu keterlibatan fisik untuk mencegah mereka dari kelelahan dan kebosanan. Siswa yang lebih banyak duduk diam akan menghambat perkembangan motorik, akademik, dan kreatifitasnya. (Ella Sulhah, 2009: 4). Oleh karena itu, proses pembelajaran seni musik harus melibatkan segenap aspek kepribadian siswa yang mencakup pikiran, perasaan, bahasa tubuh, pengetahuan, sikap, dan keyakinan. Berkait dengan hal tersebut, menurut Magnesen dalam Dryden bahwa dalam belajar siswa akan memperoleh 10 % dari apa yang dibaca, 20 % dari apa yang didengar, 30 % dari apa yang dilihat, 50 % dari apa yang dilihat dan didengar, 70 % dari apa yang dikatakan, dan 90 % dari apa yang dikatakan dan dilakukan. (Dryden, 2000: 100)

2.     Kreatif
Kreatif artinya memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk berkreasi. (Silberman, 1996: 9) dalam (Sri Gianti, 2009: 6). Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran seni musik sudah barang tentu akan membentuk siswa menjadi kreatif, artinya siswa yang mampu menghasilkan generasi kreatif, yang berguna bagi dirinya juga buat orang lain.  Kreatif di sini juga dimaksudkan agar guru mampu menciptakan berbagai aktifitas belajar seni music yang beragam sehingga memenuhi tingkat kemampuan siswa.  Menurut Semiawan daya kreatif tumbuh dalam diri setiap individu dan merupakan pengalaman yang paling mendalam dan unik bagi seseorang (Syaifurrahman, 2009: 6). Tentunya untuk menumbuhkan daya kreatif dalam pembelajaran seni musik  dibutuhkan suasana yang menggambarkan kemungkinan tumbuh dan berkembangnya daya kreatif tersebut. Suasana belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam mengemukakan gagasan dan ide-idenya tanpa harus memiliki perasaan takut disalahkan oleh guru yang bersangkutan. Suasana kondusif dan kreatif seperti itulah yang dimaksud dalam PAKEM.

3.     Efektif
Terciptanya pembelajaran yang efektif muncul karena pembelajaran yang dilaksanakan dapat menumbuhkan daya kreatif siswa sehingga dapat membekali siswa dengan berbagai kemampuan. Artinya siswa dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam dirinya sehingga menghasilkan kemampuan yang beragam.Pembelajaran yang efektif hanya bisa didapat dengan prilaku atau tindakan  nyata (learning by doing) baik dari guru maupun siswa. Di sinilah peran dari seorang guru, bagaimana Ia mampu membuat scenario pembelajaran di kelas agar proses pembelajaran berjalan sebagaimana tersebut di atas.

4.     Menyenangkan
Pembelajaran yang menyenangkan adalah suatu kondisi pembelajaran yang didisain sedemikkian rupa oleh guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran di kelas, di mana siswa dan guru berinteraksi secara akrab, sehingga siswa bisa berkonsentrasi penuh dan pusat perhatiannya terfokus pada belajar.  Berdasar hasil penelitian, tingginya perhatian siswa terbukti dapat meningkatkan hasil belajar. (Purnama,M.pd, 2009: 7)

Berdasar uraian tersebut, dapat dideskripsikan bahwa PAKEM, “Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan” adalah suatu proses pembelajaran di mana siswa terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pembelajaran yang dapat mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka melalui berbuat atau mempraktikkan langsung materi pembelajaran. Dalam kata lain, guru turut serta berperan aktif untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan model pembelajaran. Jelasnya, guru memberi dorongan semangat dan  motivasi agar siswa menemukan caranya sendiri dalam mengatasi masalahnya, berjiwa mandiri.


B A B   I I I
M E T O D E   P E N E L I T I A N

A.    Setting Penelitian

Penelitian penulis lakukan di SMA Negeri 42 Halim Perdanakusuma Jakarta Timur, pada bulan Desember sampai dengan bulan Maret 2012. Adapun subjek penelitian adalah siswa kelas X  semester genap Tahun Pelajaran 2011 – 2012, yang kemudian penulis mengambil salah satu  kelas  yaitu kelas X 6 yang jumlah siswanya sebanyak 39 orang, terdiri siswa laki-laki sebanyak 21 orang dan siswa wanita sebanyak 18 orang.  Alasan penulis memilih sampel kelas X 6 sebagai subyek penelitian didasarkan kepada minat belajar  mereka terhadap mata pelajaran seni musik relatif rendah, selain itu rata-rata hasil belajar mata pelajaran seni musik juga rendah dibandingkan dengan kelas X lainnya, berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal( KKM). Adapun nilai KKM mata pelajaran seni musik adalah 75.
Penelitian dilakukan dalam dua siklus, siklus I tiga kali pertemuan pada minggu ke 2 (Selasa, 17 Januari 2012), minggu ke 3 (Selasa, 24 Januari 2012), dan minggu ke 4 (Selasa, 31 Januari 2012).  Sedangkan siklus II pertemuan dilakukan bulan Febuari pada minggu ke 1 (Selasa, 7 Febuari 2012), minggu ke 2  (Selasa, 14 Febuari 2012), dan ke 3 (Selasa, 21 Febuari 2012).

a.       Prosedur Pelaksanaan Tindakan Kelas
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas ( PTK) dengan menggunakan  model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin yang pelaksanaannya dilakukan dalam bentuk siklus,  terdiri  atas  empat  komponen  yaitu :  (1)  perencanaan,  (2)  tindakan, (3) pengamatan,  dan  (4)  refleksi. 

1.     Perencanaan
Pada tahap ini penulis  menentukan skenario pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berdasarkan silabus seni music kompetensi dasar “Mengembangkan Gagasan kreatif serta mengaransir lagu dengan beragam teknik, media, dan materi music non tradisional daerah setempat”.

a)       Menyiapkan  seperangkat  soal-soal,  untuk  pretes  dan  postes  pada  siklus  I  dan siklus II.
b)       Menyusun format pengamatan atau observasi berupa lembar angket siswa, yang berisi pernyataan yang bisa dijawab dengan mencheklis pada kolom S (setuju), SS (sangat setuju), TS (tidak setuju), STS (sangat tidak setuju). Format ini untuk mengetahui sampai sejauh manakah minat siswa,  terhadap mata pelajaran seni musik sebelum pembelajaran disajikan.
c)       Menyusun format pengamatan atau observasi kegiatan siswa dalam pembelajaran atau tindakan yang diisi oleh penulis beserta rekan guru sejenis  selaku  observer.
d)       Membuat jurnal harian atau catatan di lapangan untuk mengetahui hal-hal yang diperlukan dalam proses pembelajaran menyangkut respon siswa, sikap, minat dan prilaku di kelas, dan dicatat dalam jurnal tersebut.
e)       Daftar hadir siswa, daftar nilai  pretes dan postes.

2.     Pelaksanaan  /  Tindakan
Pada tahap pelaksanaan atau tindakan, secara kontinyu dan berurutan penulis melakukan tindakan sebagai berikut :

a)       Melakukan pretes dengan menyertakan soal-soal seni musik sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ).
b)       Melaksanakan program pembelajaran tatap muka, sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) yang diawali dengan ”apersepsi” berupa pernyataan-pernyataan manfaat, tujuan belajar seni musik, dan memperagakan, mendemostrasikan senam birama 2/4, 3/4, 4/4 sebagai penyegaran awal. Hal ini  dalam upaya memotivasi siswa untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar siswa dalam belajar seni musik menggunakan pembelajaran model PAKEM.
c)       Pengamat atau observer penelitian adalah penulis dan rekan guru sejenis,  melakukan pengamatan sesuai dengan format pengamatan yang telah disiapkan serta mencatat hal-hal yang penting dalam jurnal harian pada saat pembelajaran.
d)       Memberikan lembar angket ( kuisioner ) kepada setiap siswa.
e)       Melaksanakan postes pada pertemuan ke tiga siklus I, dan pertemuan ke tiga pada siklus 2.
3.     Pengamatan     
Pada tahap ini, penulis bersama rekan guru sejenis  berperan sebagai observer melakukan pengamatan atau observasi, dengan memakai format pengamatan, serta mengumpulkan data-data tindakan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana minat, perhatian, respon siswa terhadap pembelajaran seni musik dengan menggunakan  pembelajaran model PAKEM yang diawali dengan upaya penulis untuk memotivasi siswa dalam upaya menumbuhkembangkan minat belajar seni musik.

4.     Refleksi
Pada tahap refleksi, setelah menyimpulkan materi pembelajaran tentang membuat aransemen lagu, penulis melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan, dengan melaksanakan pertemuan untuk membahas evaluasi tentang skenario kegiatan proses pembalajaran,  test hasil belajar dan evaluasi hasil tindakan.  Berupaya mencari untuk menemukan kelemahan dan kekurangan proses pelaksanaan pada siklus pertama yang dilanjutkan dengan upaya memperbaiki pelaksanaan tindakan sesuai  hasil evaluasi tindakan dan hasil belajar, untuk digunakan sebagai acuan menyusun tahapan siklus berikutnya. Evaluasi tindakan dalam rangka mencari kelebihan, kelemahan dan kekurangan pada kegiatan siklus ke I. 

B.    Prosedur Penelitian

S I K L U S   I

Perencanaan
Tindakan
Pengamatan
Refleksi
 Pada tahap  ini, peneliti mempersiapkan segala sesuatu berkait dengan administrasi  yang diperlukan dalam penelitian tindakan kelas diantaranya :
a.Menetapkan skenario pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
b.        B.Menyusun format pengamatan atau observasi berupa lembar angket siswa, yang berisi pertanyaan yang bisa dijawab dengan mencheklis pada kolom “S”, “SS”, “TS” “STS”.
c.Format ini untuk mengetahui sampai sejauh manakah minat siswa,  terhadap mata pelajaran seni musik sebelum pembelajaran disajikan. Adapun instrumen yang dipersiapkan adalah:
1.Menyusun format pengamatan atau observasi kegiatan siswa dalam pembelajaran atau tindakan yang diisi oleh penulis yang juga selaku  observer.
2.Membuat jurnal harian atau catatan di lapangan untuk mengetahui hal-hal yang diperlukan dalam proses pembelajaran menyangkut respon siswa, sikap, minat dan prilaku di kelas, dan dicatat dalam jurnal tersebut.
4.Menyiapkan soal-soal, untuk pretes dan postes pada siklus I dan siklus II.
5.Daftar hadir siswa, daftar nilai  pretes dan postes.

  Pada tahap pelaksanaan atau tindakan ini, secara kontinyu dan berurutan penulis melakukan tindakan sebagai berikut :
a.Melakukan pretes dengan menyertakan soal-soal seni musik sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b.Melaksanakan program pembelajaran tatap muka, sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang diawali dengan ”apersepsi” berupa pernyataan-pernyataan manfaat, tujuan belajar seni musik, dan memperagakan, mendemostrasikan senam birama 2/4, 3/4, 4/4 sebagai penyegaran awal
a)     Pengamat atau observer adalah  penulis dan rekan guru sejenis  melakukan pengamatan sesuai dengan format pengamatan yang telah disiapkan,dan mencatat hal-hal yang penting dalam jurnal harian pada saat pembelajaran.
b) Memberikan kuisioner, lembar angket  kepada setiap siswa.
c)     Melaksanakan postes pada pertemuan ke tiga siklus I, dan pertemuan ke tiga pada siklus II

 Pada tahap ini, penulis bersama rekan guru sejenis  sebagai observer melakukan pengamatan atau observasi, dengan memakai format pengamatan, serta mengumpulkan data-data tindakan. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana minat, perhatian, respon siswa terhadap pembelajaran seni musik dengan menggunakan  pembelajaran model PAKEM yang diawali dengan ”apersepsi” yaitu memperagakan secara bersama-sama antara guru dan siswa senam birama 2/4, 3/4, dan 4/4 sebagai  upaya penulis untuk memotivasi siswa dalam upaya menumbuhkembangkan minat belajar seni musik. Jelasnya, pada tahap ini penulis melakukan :
a.Melakukan observasi dengan memakai format obervasi
b.Mencatat semua perubahan yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan guru
c.Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format LKS



Pada tahap refleksi, setelah menyimpulkan materi pembelajaran tentang membuat aransemen lagu, penulis melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan, dengan:
a.Melakukan  evaluasi materi  sajian pembelajaran seni musik, jumlah dan  waktu dari setiap  macam pertemuan.
b.Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang scenario kegiatan proses pembelajaran seni musik. Jelasnya, Melakukan pertemuan tatap muka untuk membahas evaluasi test hasil belajar dan evaluasi hasil tindakan.

e.Evaluasi tindakan untuk mencari  dan menemukankeunggulan, kekurangan dan kelemahan pada kegiatan siklus pertama (Siklus ke I)
d.Memperbaiki pelaksaan tindakan sesuai hasil evaluasi tindakan dan hasil belajar, untuk digunakan menyusun tahapan siklus berikutnya







Indikator keberhasilan
 Indikator Keberhasilan:
-       Instrumen yang ditentukan telah dilakukan pada siklus I dan telah terlaksana.
-       Dalam diskusi kelompok melalui presentasi power point, siswa nampak bersemangat.
-       Siswa cukup antusias dalam mengerjakan tugas praktik membuat aransemen  dengan berdiskusi di antara mereka.
-       Hampir lebih atau sama dengan 75% siswa mendapatkan nilai lebih atau sama dengan 75 pada test hasil belajar
-       75 % siswa termotivasi, dan berminat mengikuti pembelajaran seni musik.

Prosentasae Ketuntasan :  
•  Tuntas  31 siswa             =  79, 05 %
•  Tidak Tuntas 8 siswa      =  20, 40 %               
•  Score rata-rata          =  73,23

                                                           S I K L U S   I I
Perencanaan
Tindakan
Pengamatan
Refleksi
1.Identifikasi masalah atas kelemahan dan kekurangan pada siklus ke I. Dari refleksi hasil kegiatan pada siklus I, sebagai dasar untuk menyusun rencana siklus II.
Kelemahan :
Penjelasan materi pelajaran terlalu cepat
• Kurangnya alat bantu pelajaran seperti keyboard, gitar, dll.
2.Merencanakan dan penetapan alternative pemecahan masalah.
3.Menetapkan materi pelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Seni Musik (RPP) siklus II
5.Pengembangan dan perbaikan kekurangan atau kelemahan pada siklus I
6.Menyusun kegiatan program tindakan siklus II akibat kelemahan pada siklus I. 
7.Menentukan skenario pembelajaran seni musik.
8.Menyusun bahan ajar seni musik yang dirangkum dalam RPP.
9.Menyiapkan format evaluasi observasi pembelajaran
1.Pelaksanaan program tindakan siklus II.
2.Peningkatan, penyempurnaan model / metode  pembelajaran seni musik pada siklus II.
Penyempurnaan :
Penjelasan materi pelajaran lebih dipertegas, lebih terurai, lebih nyata dengan cara memberikan contoh-contoh yang lebih kongkrit dibantu dengan alat musik
• Memperlambat ucapan, mempertegas kata-kata (artikulasi) dalam menyampaikan materi pembelajaran.
3.Langkah-langkah penyajian tindakan mengacu pada kajian landasan teori yang telah disampaikan pada siklus I
4.Menetapkan tindakan yang mengacu pada skenario yang telah disiapkan.

5.Melakukan evaluasi test hasil pelajaran seni musik ( postes )
1.Pengumpulan data tindakan siklus II.

2.Menetapkan jenis data yang akan direkam pada pelaksanaan siklus ke II.

3.Merekam semua peristiwa atau kejadian yang memperlihatkan adanya perubahan / perbaikan dalam pelaksanaan di siklus II.

2.Observasi atau pengamatan serta mencatat kegiatan harian melalui jurnal harian
1.Evaluasi tindakan  siklus II.

2.Melakukan analisis / evaluasi secara cermat apa kekurangan dan kelemahan dari pelaksanaan siklus ke II berdasar dari data yang dikumpulkan.  
                                                            

Indikator keberhasilan siklus II

1.  Instrumen yang disiapkan pada siklus II telah dilaksanakan semua.
2.  Aktifitas pembelajaran seni musik meningkat.
3.  Peningkatan dalam minat belajar siswa, nampak dari aktivitas  siswa  yang begitu antusias dalam mengikuti pembelajaran seni musik terutama saat membuat aransemen lagu ciptaan sendiri yang kemudian dipraktikkan langsung oleh siswa.
4.  Sebanyak 34 siswa = 86,70% sudah mampu membuat   aransemen, menulis, membaca, menyanyikan notasi lagu hasil dari aransir sendiri dengan benar sesuai dengan teori yang diberikan dalam proses pembelajaran di kelas.
5  .Lebih dari 80 % pada hasil test belajar, siswa mendapat nilai  di atas 75.
Prosentase ketuntasan :
•    Siswa tuntas sebanyak 34 orang        =  86,70 %
•    Siswa tidak tuntas sebanyak 5 orang =  12,75 %
•    Score rata-rata                                     =  85,25    


B A B  I V
H A S I L  P E N E L I T I A N  D A N  P E M B A H A S A N
           
Penelitian ini penulis lakukan sebagai upaya untuk memperlihatkan hasil penerapan dari tindakan kelas untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran seni musik pada kompetensi dasar mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu dengan pembelajaran model PAKEM siswa kelas X 6  SMA Negeri 42 Jakarta  tahun pelajaran 2011 / 2012. Penelitian dibagi dalam dua siklus  yaitu  Siklus I  tiga kali pertemuan, dilaksanakan pada minggu ke 2, Selasa, 17 Januari 2012, minggu ke 3, Selasa, 24 Januari 2012, dan minggu ke 4  Selasa, 31 Januari 2012.  Siklus II dilaksanakan pada minggu ke 1, Selasa, 7 Febuari 2012, miggu ke 2 Selasa, 14 Febuari 2012, dan minggu ke 3 Selasa, 21 Febuari 2012.

A.    Deskripsi Siklus I
1.     Perencanaan Tindakan
a.     Menyusun RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
b.    Menentukan media, bahan dan materi pembelajaran berkait dengan pokok bahasan yang diberikan yaitu membuat aransemen lagu.
c.     Membentuk enam kelompok musik untuk praktik menyanyikan lagu yang telah diaransir. Tiap kelompok terdiri dari siswa pria dan wanita.

2.             Pelaksanaann Tindakan
a.     Keterlaksanaan
Aktifitas tindakan kelas yang dilakukan pada siklus I dilaksanakan dalam tiga kali tatap muka. Setiap tatap muka focus penekanan materi pembelajaran adalah pada bagaimana agar masing-masing siswa mampu membuat aransemen lagu dan menyanyikan dalam kelompok musiknya dalam kelas. Aktifitas pembelajaran diberikan dengan menggunakan pembelajaran model PAKEM.

b.    Kendala
1)     Masih banyak siswa yang tidak berpartisipasi aktif dalam kelompok musik yang dibentuknya.
2)     Masih ada beberapa siswa yang masih belum paham bagaimana langkah-langkah membuat aransemen lagu.
3)     Penyampaian materi pembelajaran terlalu verbalistik sehingga kurang dipahami siswa.

3.             Pengamatan (Observasi)

Pada saat proses pembelajaran berlangsung penulis bersama observer yang juga rekan guru sejenis, melakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi pada aktifitas kinerja siswa dan guru.  Di akhir pembelajaran guru membagikan lembar angket kepada seluruh siswa tentang penerapan pembelajaran model PAKEM untuk meningkatkan minat belajar siswa pada pokok bahasan membuat aransemen lagu.

a.     Pengamatan Kinerja Siswa
Berdasarkan pada hasil pengamatan  yang dilakukan pada siklus I  adalah 22 = 59,4 % siswa ikut berpartisipasi aktif dan 15 = 40,5 % siswa tidak aktif dalam melaksanakan langkah-langkah pembelajaran model PAKEM dalam membuat arasemen lagu.

b.    Pengamatan kinerja guru
Berdasarkan hasil pengamatan tentang kinerja guru data yang didapat adalah seperti berikut: Nilai Baik Sekali (A) pada komponen Bahan ajar, RPP dan Penguasaan materi 15,2 %. Baik (B) pada komponen apersepsi berupa peragaan senam birama 2/4, 3/4, dan 4/4, keterampilan guru menggunakan media dan metode pembelajaran serta dalam memangelola kelas, mengarahkan, kesesuaian antara soal dan materi dalam evaluasi, pemberian tugas, serta menutup pembelajaran 69,2 %. Nilai Cukup (C)  pada aspek menciptakan suasana kelas yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, dan pengamatan terhadap aktifitas siswa di kelas sebanyak 15,4 %.

c.     Angket Penerapan Pembelajaran Model PAKEM
Berdasar hasil angket siswa tentang penggunaan pembelajaran  model PAKEM dalam meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran seni musik membuat aransemen lagu diperoleh 21 siswa  atau  53,97 % siswa menyukai, dan siswa yang tidak menyukai sebanyak 18 siswa atau 46,26 %. Siswa yang bisa belajar dan mengikuti pembelajaran model PAKEM dengan baik sebanyak 24 atau 67,20 %. Tidak bisa mengikuti sebanyak 15 atau 38,25%. Berikutnya adalah siswa yang bisa meningkatkan hasil belajar dengan pembelajaran model PAKEM adalah sebanyak 31 orang atau 79,05 %, dan yang tidak bisa meningkatkan hasil belajar sebanyak 8 orang atau 20,40 % 

4.             Refleksi
Mengacu pada hasil observasi di siklus I yang masih banyak kelemahan dan perlu tindak lanjut berupa perbaikan-perbaikan untuk siklus berikutnya, maka tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a.     Memotivasi siswa agar lebih aktif berdiskusi, berlatih membuat aransemen, dansekaligus berlatih menyanyikan lagu yang telah dibuat aransemennya.
c.        Perolehan nilai hasil belajar perlu ditingkatkan lagi agar mencapai nilai KKM sekolah yaitu 75.

B.    Deskripsi Siklus II
Aktifitas penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut :

1.             Perencanaan Tindakan
Berdasarkan refleksi observasi pada siklus I, maka  siklus II merupakan tindakan perbaikan siklus I. Adapun tindakan-tindakan  yang akan dilaksanakan pada siklus II adalah sebagai berikut :

a.     Memotivasi siswa agar lebih aktif berdiskusi, kreatif berlatih membuat aransemen, dan sekaligus berlatih menyanyikan lagu yang telah dibuat aransemennya.
b.    Memperbaiki strategi, pendekatan, dan model pembelajaran dengan mengurangi penyajian materi yang verbalistik, menambah alat bantu pelajaran yang lebih variatif seperti keyboard, gitar, pianika, tamtam, contoh lagu-lagu yang sudah dibuat komposisi aransemennya, dan memperagakannya di depan siswa dalam proses pembelajaran di kelas.
c.     Memberikan aksentuasi dan perhatian yang khusus kepada siswa berkait dengan aspek-aspek yang dinilai dalam membuat komposisi aransemen lagu, seperti harmoni, ekspresi, dinamika, melodi pokok lagu, dan lain-lain.   

2.             Pelaksanaan Tindakan
Pada pelaksanaan tindakan siklus II sama seperti pada pelaksanaan siklus I, hanya  lebih diintensifkan lagi dengan berupaya memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat pada siklus I.  Hal ini  sebagai upaya penulis untuk meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran seni musik agar memperoleh hasil belajar yang lebih baik dalam membuat aransemen lagu.

3.             Observasi
      Pelaksanaan observasi pada siklus II sama seperti pada siklus I. Adapun yang diamati adalah:

a.     Observasi Kinerja Siswa
Berdasar hasil pengamatan observasi kinerja siswa pada siklus II didapat 86,70 % , dan 13,30 % siswa tidak aktif dalam melaksanakan langkah-langkah pembelajaran model PAKEM membuat aransemen lagu.

b.    Observasi Kinerja Guru
      Pada pengamatan kinerja guru diperoleh hasil dengan nilai sebagai berikut : Nilai A (baik sekali) pada komponen apersepsi, bahan ajar, penguasaan materi, menciptaan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, penutup, pemberian tugas sebanyak 67,67 %, dan nilai B (baik) pada komponen motivasi, penggunaan metode, kesesuaian soal dengan kompetensi dasar, pengamatan terhadap aktifitas siswa, sejumlah 32,33 %.

c.     Angket  Penerapan Pembelajaran Model PAKEM
Hasil angket siswa terhadap penggunaan pembelajaran model PAKEM mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu diperoleh data 34 atau 86,70 % siswa menyukai.  Sedangkan sebanyak 5 atau 13,30 % siswa tidak menyukai.  Penggunaan pembelajaran model PAKEM dalam mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu ternyata berpengaruh terhadap peningkatan belajar siswa yang lebih baik, diperoleh data 35 atau 89,25 % siswa. Siswa yang tidak terpengaruh sebanyak 4 atau 10,75 %.

4.     Refleksi
Dari data hasil tes belajar, observasi, angket yang diberikan menunjukkan bahwa penggunaan pembelajaran model PAKEM pada kompetensi dasar mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu pada pra siklus memperoleh nilai rata-rata 51,97. Pada siklus I memperoleh nilai 73,23 dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 85,25.

Tabel Hasil Belajar Siswa pra siklus, siklus I dan siklus II

NO
KETERANGAN

SIKLUS



Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
1
Nilai tertinggi
80
90
95
2
Nilai terendah
50
70
70
3
Nilai rata-rata
51,97
73,23
85,25

C.    Pembahasan Antar Siklus
Berdasar penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan, peningkatan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran seni musik mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu dengan pendekatan pembelajaran model PAKEM, mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus I dan Siklus II bisa dilihat dari table berikut :

Tabel hasil belajar siswa

Nilai
Pra Siklus
%
Siklus I
%
Siklus II
%
35 – 50
5
12,75
0
0
0
0
51 – 65
13
33,15
0
0
0
0
66 – 80
21
51,55
21
53,55
17
43,35
81-100
0
 2,55
18
45,90
22
56,10
jumlah
39
100
39
100
39
100

Hal ini penulis lakukan oleh karena  penelitian lebih terfokus pada ingin mengungkapkan  sampai sejauh mana peningkatan minat belajar siswa setelah menggunakan pendekatan pembelajaran menggunakan model PAKEM. Dari hasil olah data kuisioner penelitian yang diberikan pada siswa di setiap siklus terungkap, umumnya minat belajar siswa kelas X 6 pada pelajaran seni musik berbanding lurus dengan hasil belajar.  Peneliti mendapatkan data hasil belajar melalui pretes dan postes siklus I dan siklus II. Pada awal dan akhir  setiap siklus diadakan pretes. Postes diilaksanakan  setelah proses pembelajaran berlangsung, atau setelah diberi tindakan. Jenis soal, jumlah soal , dan lamanya waktu pengerjaan soal pretes dan postes adalah sama. Dengan demikian dari hasil pretes dan postes tersebut, baik di siklus I maupun siklus II dapat terlihat seberapa besar peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran seni musik.
Berikut adalah data-data hasil penelitian, aktivitas siswa saat pembelajaran, serta temuan-temuan  saat pelaksanaan tindakan kelas berlangsung serta pembahasannya, tergambarkan pada masing-masing siklus berikut ini :

A.   Siklus I

1.      Minat Belajar
 Seni Musik pada Kompetensi Dasar : Mengembangkan Gagasan Kreatif Membuat Aransemen Lagu  pada pertemuan pertama di siklus I yaitu pada hari selasa tanggal 17 Januari 2012, dilakukan pembelajaran yang diawali dengan ”apersepsi” pemberian motivasi . Adapun motivasi yang diberikan pada awal pembelajaran pada pertemuan pertama berkait erat dengan tujuan pembelajaran dan materi ajar yang disampaikan  

a.     Siswa diharapkan mampu menjelaskan bentuk-bentuk ciptaan musik.
b. Siswa diharapkan mampu menjelaskan jenis-jenis karya musik berdasarkan bentuknya.
c. Siswa diharapkan mampu menjelaskan materi, prosedur dan langkah-langkah membuat aransemen lagu.
 d.    Siswa diharapkan mampu membuat aransemen lagu. 
Tahap berikutnya, guru menyampaikan materi pembelajaran yang diawali dengan ”apersepsi” menjelaskan tentang pengertian seni musik, manfaat dan kegunaan memiliki keterampilan bermain musik. Sebagai motivasi agar siswa tertarik dengan materi pelajaran, diperagakan juga bagaimana menggunakan salah satu instrumen musik (keyboard), serta siswa bersama-sama menyanyikan senam birama 2/4, 3/4, 4/4. Hal ini dikondisikan sedemikian rupa agar proses pembelajaran ada dalam suasana yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
  Pada langkah inti, guru menjelaskan bentuk-bentuk ciptaan musik berikut contohnya, jenis-jenis karya musik berikut contohnya, menjelaskan materi dan prosedur serta langkah-langkah membuat aransemen lagu berikut contoh dan peragaannya. Pada langkah akhir, guru menyimpulkan materi pelajaran, memberikan  pertanyaan-pertanyaan, memberi kesempatan kepada siswa untuk menjawab dan bertanya terkait dengan materi pelajaran yang diberikan. Di sini penulis bersama rekan guru observer melihat bagaimana situasi dan kondisi siswa, aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung, seperti bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, atau menyanggah. Pada pertemuan  pertama ini belum nampak ada perubahan aktivitas yang berarti dari, akan tetapi siswa cenderung fokus pada materi yang disampaikan . Dari data lembar observasi diperoleh :

a.                     Siswa bertanya 2 orang siswa (5,40 %)
b.    Siswa menjawab pertanyaan 4 orang siswa (10,80 %)
c.     Siswa mengemukakan pendapat 3 orang siswa (8,10 %).
d.    Siswa menyanggah sebanyak 3 orang siswa (8,10 %).
e.     Prosentase aktivitas kelas secara keseluruhan (35,10 %).

Selanjutnya berkait dengan sampai sejauh mana minat siswa terhadap mata pelajaran seni musik, pada proses pembelajaran berlangsung selama kurang lebih 20 menit , peneliti dibantu oleh observer mengedarkan lembar kuisioner yang kemudian diisi oleh siswa sebanyak 37 orang. Kuisioner tersebut sengaja dirancang berurutan, agar siswa merespon , sehingga muncul jawaban dengan mencheklis (V) pada kolom “S”, atau “SS”, atau “ TS dan STS”. Peneliti memfokuskan hasil kuisioner terutama pada minat siswa dengan alasan :

-   Ketertarikannya pada mata pelajaran seni musik , karena belajar seni musik materinya menanamkan sikap apresiatif, menghargai hasil karya orang lain.
-  Ketertarikannya pada mata pelajaran seni musik, karena seni musik bersifat aktif, kreatif, dan  menyenangkan.
-  Ketertarikannya pada mata pelajaran seni musik, karena setiap siswa membutuhkan sarana berekspresi, dan lebih lagi seni musik adalah sebagai sarana pengembangan minat dan bakat.

Pada siklus I , kuisioner tersebut mempertlihatkan ;
-       20 siswa atau 54,60 % siswa tertarik pada mata pelajaran  seni musik, karena belajar seni musik materinya menanamkan sikap dan penghargaan terhadap hasil karya orang lain.
-       25 siswa atau 67,50 % siswa tertarik pada mata pelajaran seni musik, karena seni musik kegiatannya  menyenangkan.
-       23 siswa atau 62,10 % siswa tertarik pada mata pelajaran seni musik, karena setiap siswa membutuhkan sarana pengembangan minat dan bakat.

Dugaan atau asumsi peneliti alasan ketertarikan siswa pada mata pelajaran seni musik tersebut dari data seberapa banyak siswa yang menjawab kuisioner nomor 8, 9 dan 12 data tersebut dapat terlihat pada lampiran B. Pada pertemuan kedua yang dilaksanakan pada hari selasa tanggal 24 Januari 2012, pelaksanaan pembelajaran  mengacu pada RPP , dengan materi ajar : Membuat aransemen lagu non tradisional.  Diawal  pembelajaran guru memberikan motivasi pada siswa dengan memperagakan senam birama, memperagakan contoh gerak tangan birama 2/4, 3/4, 4/4. Proses penyampaian materi pembelajaran berlangsung sesuai dengan RPP. Untuk mengetahui aktivitas pembelajaran saat proses berlangsung, observer mengamati dan dihasilkan data sebagai berikut :

a.    Siswa yang bertanya sebanyak 2 orang  ( 5,40 % )
b.   Siswa yang menjawab pertanyaan 4 orang ( 10,80 %)
c.   Siswa menyanggah sebanyak 3 orang ( 8,10 %)
d.    Mengemukakan pendapat sebanyak 4 orang ( 10,80 % )  
Persentase aktifitas kelas =  35,10 %

2.     Hasil belajar
Dengan asumsi peneliti bahwa minat yang tinggi pada mata pelajaran akan berbanding lurus, atau mempunyai korelasi terhadap hasil belajar, maka peneliti memberikan tes baik pretes maupun postes pada siklus I dan siklus II. Pada hari selasa  tanggal 17 Januari 2012 sebelum tindakan dilaksanakan dengan waktu 2 X 45 menit, diadakan pretes dengan jumlah soal PG = 10  adapun bobot soal : PG setiap soal skor = 1 jumlah betul semua atau skor tertinggi  adalah = 10.  Didapat hasil pretes antara lain sebagai berikut skor nilai rata-rata kelas 51.97  dan prosentase ketuntasan belajar sebesar 53,97 % yaitu hanya 21 siswa dari 39 yang nilai pretesnya mencapai sama atau lebih dari 75, hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar seni musik  dengan materi membuat aransemen lagu non tradisional, dilihat dari kemampuan awal sebelum proses pembelajaran masih rendah, kondisi tersebut dianggap wajar karena materi tersebut belum disampaikan. Sementara pengetahuan siswa yang didapat berkaitan dengan materi tersebut di kelas X 6 tidak terdapat materi yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan.


DATA NILAI HASIL PRETES SIKLUS I

Pretes Siklus          :   I
Hari / Tgl                : Selasa , 17 Januari 2012

Nomor
Nama
KKM
Nilai
Ket
Urut
Induk
1
15966
Afifa Maitsa Prasetyo
75
60
TL
2
15967
Agung Wahana Shaputra
75
 75

3
15968
Ahmad Syauqy
75
 50
TL
4
15969
Albert Hendrico
75
80

5
15970
Amarra Rizky Gabriella
75
50
TL
6
15971
Anisa Sabila R
75
 75

7
15973
Aulia Dewantoro
75
 70
TL
8
15974
Bangkit Arohman
75
 77

9
15975
Delima Cintia Putri
75
 75

10
15976
Diva Smaradhana HW
75
 55
TL
11
15977
Diyah Sulistyani
75
 68
TL
12
15573
Egar Ramadhana
75
 72
TL
13
15978
Elsa Cecilia
75
 73
TL
14
15979
Eriz Novalia
75
 75

15
15980
Fadh Ashri Bayuarasy
75
 77

16
15981
Fajriansyah Herawan Pangestu
75
 65
TL
17
15982
Fandi Muhammad Nur
75
 75

18
15983
Farah Diba
75
 50
TL
19
15984
Fredo Christopher
75
 75

20
15985
Gita Rosiana
75
 68
TL
21
15986
Imelia Kintani
75
 65
TL
22
15987
Mochammad Randy
75
 70
TL
23
16104
Mochammad Cakra
75
 75

24
15988
Mohammada Fadly
75
 65
TL
25
15988
Muhammada Abie Pratama
75
 50
TL
26
15990
Muhammad Gatra Panji
75
 65
TL
27
15991
Muhammad Hilal Jamil
75
 75

28
15992
Muhammad Imam Naufaldi
75
 75

29
15993
Neriando Sangap
75
 70
TL
30
15994
Oktavyan Wibisono
75
 75

31
15995
Rahardi Prakoso
75
 55
TL
32
15996
Rifa Fadilah
75
 80

33
15997
Rizkya Putri Nabila
75
75

34
16107
Sabrina Farahiyah F
75
75

35
15998
Shiela Ayudia
75
80

36
15999
Talitha Raissa Denura
75
75

37
16000
Tiara Ayu Suci Ramadhan
75
75

38
16001
Trina Acacia
75
75

39
16002
Widia Yuliawati
75
75




Prosentase Ketuntasan

•  Tuntas 21 siswa             =  53, 97 %
•  Tidak tuntas 18 siswa    =  46, 26 %
•  Score  rata-rata   =  51, 97


Dari pretes di siklus I yang diperoleh hasil 53,97 % mencapai ketuntasan ( KKM ) hal ini merupakan bahan pertimbangan dalam melakukan upaya peningkatan hasil belajar menggunakan pembelajaran model PAKEM. Setelah proses pembelajaran berlangsung di siklus I dalam tiga kali pertemuan selanjutnya diadakan postes dengan soal yang sama dengan soal yang diberikan pada pretes pertemuan pertama. Postes dilakukan pada hari selasa, 31 Januari 2012 selama 30 menit, hasil yang didapat antara lain:

-     31 siswa dari 39 yang nilai pretesnya mencapai sama atau lebih dari 75
-     skor nilai rata – rata kelas : 73,23
-    prosentase yang  belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal sebanyak 8 orang dari 39 siswa atau 20,40 % siswa yang belum mencapai KKM.

3.   Refleksi
Berdasarkan data hasil yang diperoleh setelah melakukan tindakan disiklus I dengan tiga kali pertemuan kemudaian disertai pengamatan atau observasi dari guru lain sebagai observer, menyatakan bahwa pembelajaran seni musik yang disampaikan menggunakan pembelajaran model PAKEM, memberikan hasil yang cukup memuaskan sesuai dengan target yang diharapkan. Adapun hasil yang didapat memperlihatkan peningkatan aktivitas terutama pada siswa yang bertanya, menjawab pertanyaan dan mengemukakan pendapat, meskipun siswa yang aktif  pada pertemuan pertama  belum banyak sebesar 24, 50 % tetapi pada pertemuan kedua aktivitas kelas secara keseluruhan mengalami peningkatan  yaitu menjadi  45,90 %. Sementara hasil kuisioner berkaitan dengan sejauh mana pandangan siswa terhadap mata  pelajaran seni musik, di siklus I memperlihatkan bahwa 66,50 % siswa atau sebanyak 25 siswa dari jumlah 39 memperlihatkan ketertarikan atau minat terhadap seni musik, dengan alasan bahwa pelajaran seni rupa merupakan pelajaran yang menyenangkan. Alasan ini lebih banyak dibandingkan dengan siswa yang tertarik terhadap seni musik karena setiap siswa membutuhkan sarana pengembangan minat dan bakat. Harapan peneliti ketertarikan tersebut mendapatkan peningkatan juga pada ketertarikan siswa pada seni musik dengan alasan karena belajar seni musik materinya menanamkan sikap dan penghargaan terhadap hasil karya orang lain.
Data berikutnya yaitu hasil belajar yang diperoleh dari pretes ke postes memperlihatkan peningkatan yang cukup signifikan, namun peneliti merasa belum puas melihat data tersebut karena masih belum dianggap wajar, peningkatan tersebut diperoleh setelah proses pembelajaran berlangsung. Data tersebut nampak pada tabel berikut :

DATA NILAI HASIL POSTES I SIKLUS I

Postes Siklus   :     I
Hari / Tgl          :     Selasa , 31 Januari 2012

Nomor
Nama
KKM
Nilai
Ket
Urut
Induk
1
15966
Afifa Maitsa Prasetyo
75
85

2
15967
Agung Wahana Shaputra
75
75

3
15968
Ahmad Syauqy
75
70
TL
4
15969
Albert Hendrico
75
90

5
15970
Amarra Rizky Gabriella
75
80
TL
6
15971
Anisa Sabila R
75
80

7
15973
Aulia Dewantoro
75
75

8
15974
Bangkit Arohman
75
80

9
15975
Delima Cintia Putri
75
75

10
15976
Diva Smaradhana HW
75
70
TL
11
15977
Diyah Sulistyani
75
75

12
15573
Egar Ramadhana
75
70
TL
13
15978
Elsa Cecilia
75
80

14
15979
Eriz Novalia
75
75

15
15980
Fadh Ashri Bayuarasy
75
80

16
15981
Fajriansyah Herawan Pangestu
75
80

17
15982
Fandi Muhammad Nur
75
75

18
15983
Farah Diba
75
70
TL
19
15984
Fredo Christopher
75
85

20
15985
Gita Rosiana
75
70
TL
21
15986
Imelia Kintani
75
70
TL
22
15987
Mochammad Randy
75
75

23
16104
Mochammad Cakra
75
80

24
15988
Mohammada Fadly
75
75

25
15988
Muhammada Abie Pratama
75
70
TL
26
15990
Muhammad Gatra Panji
75
80

27
15991
Muhammad Hilal Jamil
75
75

28
15992
Muhammad Imam Naufaldi
75
85

29
15993
Neriando Sangap
75
70
TL
30
15994
Oktavyan Wibisono
75
80

31
15995
Rahardi Prakoso
75
75

32
15996
Rifa Fadilah
75
80

33
15997
Rizkya Putri Nabila
75
75

34
16107
Sabrina Farahiyah F
75
80

35
15998
Shiela Ayudia
75
80

36
15999
Talitha Raissa Denura
75
75

37
16000
Tiara Ayu Suci Ramadhan
75
80

38
16001
Trina Acacia
75
75

39
16002
Widia Yuliawati
75
80


Prosentasae Ketuntasan :        
•  Tuntas  31 siswa             =  79, 05 %
•  Tidak Tuntas 8 siswa      =  20, 40 %  
•  Score rata-rata               =  73,23

                     Prosentase Kriteria Ketuntasan Belajar Siklus I
Pretes
Postes
Perbedaan

51, 97 %

73, 23 %


21,26 %






Dengan demikian peneliti beranggapan bahwa pada siklus berikutnya ada beberapa hal yang harus ditingkatkan antara lain :

a.       Penyampaian materi dibuat lebih terinci, sitematis lebih jelas dan terarah, dengan menampilkan banyak contoh-contoh peragaan, alat bantu pelajaran keyboard, pianika, gitar. Dll.
b.       Pendekatan pembelajaran model PAKEM harus lebih kolaboratif, dengan mengimplementasikan secara kolaboratif metode ceramah, demonstrasi, praktik, diskusi dan sebagainya, sehingga proses pembelajaran lebih bervariatif, kesempatan siswa untuk aktif, kreatif lebih meningkat secara kelseluruhan.
c.        Tes hasil belajar akan diberikan waktu khusus dengan durasi waktu menjadi 60 menit.    

A.    Siklus II

1.     Minat belajar
Minat seni musik melalui pembelajaran PAKEM :  Mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu. Pada tahap refleksi di siklus I, peneliti bersama dengan kolaborator berasumsi bahwa tindakan pada siklus ke II harus lebih ditingkatkan, dengan alasan bahwa ternyata terdapat korelasi yang  signifikan antara pemberian motivasi diawal pembelajaran dan proses pembelajaran menggunakan PAKEM pada pelajaran seni musik, yaitu dapat memotivasi meningkatkan minat belajar pada mata pelajaran tersebut. Mengawali tindakan di siklus II , pada pertemuan pertama hari selasa  7 Febuari 2012 mengacu pada skenario pembelajaran ( RPP ) yang telah disiapkan. Dengan pokok bahasan membuat aransemen lagu non tradisional. Membangun motivasi yang dibangun pada pertemuan pertama siklus II ini adalah dengan pemberian penguatan atas jawaban, pertanyaan, pendapat siswa dalam bentuk pemberian point nilai untuk tabungan siswa dalam buku nilai. Hasilnya adalah cukup memuaskan, dan motivasi ini amat efektif dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan minat belajar siswa, karena nilai yang tinggi merupakan hal yang diharapkan setiap siswa.  Hasil akhir memperlihatkan, dengan pembelajaran model PAKEM dapat meningkatkan minat belajar yang sekaligus juga meningkatkan nilai   belajar siswa terhadap pelajaran “Seni Musik”. Berikut merupakan aktivitas siswa saat pembelajaran pada pertemuan ke I di siklus II :

No
Aktifitas Siswa
Jumlah
Prosentase
1.
2.
3.
4.
   5.
Bertanya
Menjawab Pertanyaan
Mengemukakan Pendapat
Menyangga
Tidak aktif
8
8
6
1
16
20,40 %
20,40 %
15,30 %
 2,55 %
30,80 %

Aktifitas Kelas
39 – 16 = 23 %
100 – 30,80 = 69,20 %

      Pada pertemuan ke 3 hari selasa 21 Febuari 2012 dengan materi ajar :     Membuat  aransemen lagu non tradisional dengan membangun motivasi yang sengaja dibangun dalam pembelajaran adalah upaya mengungkapkan aktivitas belajar yang diamati oleh observer juga nampak ada peningkatan  dan  antusias  belajar terlihat meningkat terutama dalam mengungkapkan pendapat. Aktivitas siswa dapat dimunculkan dengan hasil data sebagai berikut : 
No
Aktifitas Siswa
Jumlah
Prosentase
1.
2.
3.
4.
5.
Bertanya
Menjawab Pertanyaan
Mengemukakan Pendapat
Menyangga
Tidak aktif
10
10
8
4
7
27,00  %
27,00 %
21,60 %
9,80 %
17,85 %

Aktivitas Kelas
39 – 7 =    32 %
100 – 17,85 = 82,15 %

   
      Pada pertemuan ke tiga sekaligus pertemuan terakhir, perhatian peneliti  kembali fokus kepada sejauh mana minat siswa terhadap mata pelajaran seni musik, sehingga data yang didapatkan tertutama dari kuisioner. Setelah tindakan pertemuan kedua dilaksanakan, peneliti memberikan kuisioner yang sama pada siklus I dan hasilnya terjadi perubahan dari siklus I antara lain : 39 siswa menjawab bahwa mata pelajaran seni musik sangat penting, 37 siswa  atau 86,40 %  siswa diantaranya mengemukakan alasan berkaitan dengan manfaat dari segi sarana pengembangan minat dan bakat siswa, sementara masih nampak 35 siswa atau 96,50 % siswa juga menjawab pertanyaan bahwa seni musik menarik  karena kajian materinya menanamkan sikap dan penghargaan terhadap hasil karya seni orang lain.

2.     Hasil Belajar

Sesuai dengan rumusan masalah, Meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran seni musik dengan menggunakan pendekatan pembelajaran model PAKEM, model  penelitian untuk menghasilkan data tersebut, adalah tes hasil belajar yang diberikan melalui prosedur pretes dan postes di siklus II. Pertemuan pertama sebelum tindakan yaitu hari Selasa, 7 Febuari 2012  diadakan pretes, dengan soal pilihan ganda  ( soal di lampiran ). Pada pretes II skor nilai rata-rata sebesar 74,10 sedangkan prosentase ketuntasan belajar mencapai  62,10 %   yaitu 31 siswa dari 39 mencapai KKM. Sementara itu setelah tindakan dilakukan diadakan postes II, adapun hasil yang dicapai 34 siswa dari 39 mencapai sama dengan atau lebih 75 ( KKM ) atau 86,70 % dengan nilai rata – rata 85,25  kenaikan dari pretes ke postes sebesar 11,15 %  




DATA NILAI HASIL PRETES SIKLUS II

Pretes Siklus          :   II
Hari / Tgl                :   Selasa ,  07 Febuary 2012

Nomor
Nama
KKM
Nilai
Ket
Urut
Induk
1
15966
Afifa Maitsa Prasetyo
75
75

2
15967
Agung Wahana Shaputra
75
75

3
15968
Ahmad Syauqy
75
75

4
15969
Albert Hendrico
75
90

5
15970
Amarra Rizky Gabriella
75
75

6
15971
Anisa Sabila R
75
75

7
15973
Aulia Dewantoro
75
75

8
15974
Bangkit Arohman
75
80

9
15975
Delima Cintia Putri
75
75

10
15976
Diva Smaradhana HW
75
70
TL
11
15977
Diyah Sulistyani
75
70
TL
12
15573
Egar Ramadhana
75
75

13
15978
Elsa Cecilia
75
75

14
15979
Eriz Novalia
75
75

15
15980
Fadh Ashri Bayuarasy
75
75

16
15981
Fajriansyah Herawan P
75
80

17
15982
Fandi Muhammad Nur
75
75

18
15983
Farah Diba
75
70
TL
19
15984
Fredo Christopher
75
70
TL
20
15985
Gita Rosiana
75
70
TL
21
15986
Imelia Kintani
75
70
TL
22
15987
Mochammad Randy
75
75

23
16104
Mochammad Cakra
75
75

24
15988
Mohammada Fadly
75
75

25
15988
Muhammada Abie Pratama
75
70
TL
26
15990
Muhammad Gatra Panji
75
80

27
15991
Muhammad Hilal Jamil
75
75

28
15992
Muhammad Imam Naufaldi
75
75

29
15993
Neriando Sangap
75
75

30
15994
Oktavyan Wibisono
75
75

31
15995
Rahardi Prakoso
75
75

32
15996
Rifa Fadilah
75
80

33
15997
Rizkya Putri Nabila
75
75

34
16107
Sabrina Farahiyah F
75
75

35
15998
Shiela Ayudia
75
70
TL
36
15999
Talitha Raissa Denura
75
75

37
16000
Tiara Ayu Suci Ramadhan
75
75

38
16001
Trina Acacia
75
75

39
16002
Widia Yuliawati
75
80


Prosentase Ketuntasan :
•  Siswa tuntas sebanyak  31 orang        =   78,55 %
•  Siswa tidak tuntas sebanyak  8 orang  =   20,40 %
•  Score rata-rata                                    =   74,10






DATA NILAI HASIL POSTES SIKLUS II

Postes Siklus   :   II
Hari / Tgl          :   Selasa , 21 Febuary 2012

No:

No.Induk
N a m a
KKM
Nilai
Ket.
1
15966
Afifa Maitsa Prasetyo
75
80

2
15967
Agung Wahana Shaputra
75
 80

3
15968
Ahmad Syauqy
75
 80

4
15969
Albert Hendrico
75
 95

5
15970
Amarra Rizky Gabriella
75
 75

6
15971
Anisa Sabila
75
 80

7
15973
Aulia Dewantoro
75
 80

8
15974
Bangkit Arohman
75
 70
TL
9
15975
Delima Cintia Putri
75
 80

10
15976
Diva Smaradhana Haryo W
75
 75

11
15977
Diyah Sulistyani
75
 85

12
15573
Egar Ramadhana
75
 75

13
15978
Elsa Cecilia
75
 80

14
15979
Eriz Novalia
75
 80

15
15980
Fahd Ashri Bayuarasy
75
 70
TL
16
15981
Fajriansyah Herawan Pangestu
75
 80

17
15982
Fandi Muhamad Nur Hi
75
85

18
15983
Farah Diba
75
 80

19
15984
Fredo Kristopher
75
 75

20
15985
Gita Rosiana
75
 90

21
15986
Imelia Kintani
75
 85

22
15987
Mochammad Randy S
75
 80

23
16104
Mohammad Cakra J.A
75
 70
TL
24
15989
Muhammad Abie Pratama
75
 80

25
15989
Muhammad Abie Pratama
75
 85

26
15990
Muhammad Gatra Panji W
75
 80

27
15991
Muhammad Hilal Jamil
75
 85

28
15992
Muhammad Imam Naufaldi
75
 80

29
15993
Neriando Sangap
75
 70
TL
30
15994
Oktavyan Wibisono
75
 75

31
15995
Rahardi Prakoso
75
 80

32
15996
Rifa Fadhilah
75
 80

33
16107
Sabrina Farahiyah F
75
 80

34
15997
Rizkya Putri Nabila
75
75

35
15998
Shiela Ayudia
75
75

36
15999
Talitha Raissa Denura
75
70
TL
37
16000
Tiara Ayu Suci Ramadhan
75
85

38
16001
Trina Acacia
75
80

39
16002
Widia Yuliawati
75
95


Prosentase Kriteria Ketuntasan Belajar Siklus II
Pretes
Postes
Perbedaan

74,10 %

85,25 %


11,15 %

3.   Refleksi
Dari empat kali pertemuan yang terbagi dari dua siklus, diawali perencanaan, tindakan observasi dan seterusnya, peneliti melihat beberapa hasil dari upaya tindakan yang memperlihatkan adanya peningkatan, antara lain sebagai berikut :

Porosentase Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
No
Aktivitas Siswa
Siklus I
Siklus II


P 1
P 2
P 3
P 1
P 2
P 3
1.
2.

3.
4.

5.
Bertanya
Menjawab Pertanyaan
Mengemukakan pendapat.
Menyanggah
Tidak aktif
5,40 %
10,20 %

13,50%

0

13,57%
16,20%

15,62%

0

16,20%
16,20%

21,60%

0
21,60%
27,00%

21,60%

0
25,00 %
32,40 %

24,30 %

0
28,90 %
35,10 %

24,30 %

0 %

    Aktivitas Kelas
29,10 %
45,39%
 54,00
69,20%
81,70 %
91,00%



Peningkatan aktivitas siswa dalam belajar sangat memungkinkan apabila   proses pembelajaran disempurnakan baik dari segi metode, pendekatan ataupun alat bantu pembelajaran yang digunakan bervariatif sesuai dengan karakter pembelajaran model PAKEM. Berkait dengan minat belajar seni musik yang merupakan bagian yang paling diharapkan dalam hasil penelitian ini, memperlihatkan perubahan yang cukup berarti terutama berkait dengan ketertarikan siswa terhadap seni musik dengan alasan  pelajaran seni musik sangat penting, 33 siswa atau 89,10 % siswa diantaranya mengemukakan alasan berkaitan dengan manfaat dari segi sarana pengembangan minat dan bakat siswa. Sedangkan siswa tertarik terhadap seni musik dengan alasan seni musik merupakan pelajaran yang menyenangkan,  dari 25 siswa 66,50 % menjadi 33 siswa 89,10 %.  Sementara itu 30 siswa tertarik mata pelajaran seni rupa kajian materinya menanamkan sikap dan penghargaan terhadap hasil karya orang lain dari 22 siswa  = 59,40 % menjadi 35 siswa = 94,50 %. Perubahan hasil kuisioner di siklus II dari siklus I berkaitan dengan minat siswa terhadap mata pelajaran seni musik, memperlihatkan bahwa proses pembelajaran yang diawali dengan pemberian motivasi sangat diperlukan, bahkan selanjutnya peneliti berasumsi bahwa pembelajaran menggunakan model PAKEM akan menjadi motivasi yang cukup berarti bagi siswa dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan minat belajar siswa terhadap pelajaran seni musik. Hasil belajar yang diperoleh melalui proses pembelajaran di siklus I dan siklus II melalui postes I dan postes II, memperlihatkan peningkatan, seperti nampak pada tabel berikut :

Siklus
Pretes
Postes
Perbedaan
I
51,97
73, 23
21,26
II
74,10
 85,25
11,15
    
Skor nilai rata-rata kelas dapat dilihat
Siklus
Skor nilai rata – rata pretes
Skor nilai rata – rata postes

Perbedaan

I
51, 97
73,23
21,26
II
74,10
85,25
11,15

Dari tabel di atas ditemukan nilai rata-rata kelas yang mencapai KKM mata pelajaran seni rupa pada postes yaitu 75 . Kenaikan hasil belajar yang diperoleh, menguatkan dugaan bahwa minat belajar berbanding lurus dengan hasil belajar. Begitu juga kegairahan siswa yang diperlihatkan dengan aktivitas belajar seperti bertanya, menjawab pertanyaan, serta mengemukakan pendapat, bisa menjadi tolak ukur sejauh mana minat siswa terhadap mata pelajaran seni musik. Deskripsi data hasil penelitian yang telah diuraikan, diharapkan juga akan memotivasi guru untuk melaksanakan tindakan kelas, ketika ditemukan masalah-masalah dalam pembelajaran. Kegairah guru dalam menggali berbagai model, metode, media serta upaya dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran adalah kegairahan bersama mulai dari kepala sekolah, guru mata pelajaran, juga siswa dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.


B  A  B   V
S I M P U L A N   D A N   S A R A N

A.        Simpulan

Berbasis dari analisa hasil penelitian yang mengacu pada rumusan masalah  yang telah ditentukan, disertai dengan temuan-temuan dalam proses tindakan dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab IV tentang proses pembelajaran untuk meningkatkan minat siswa pada mata pelajaran seni musik, dengan menggunakan pembelajaran model PAKEM, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1.         Proses pembelajaran pada KD : Mengembangkan Gagasan Kreatif Membuat Aransemen Lagu dengan menggunakan pembelajaran model PAKEM dapat meningkatkan minat belajar siswa pada pelajaran seni musik. Perkembangan peningkatan minat belajar siswa dapat dilihat dari hasil kuisioner yang berkait dengan ketertarikan siswa pada mata pelajaran seni musik karena seni musik  kajian materinya menanamkan sikap dan penghargaan terhadap hasil karya orang lain dari 22 siswa = 56,10 % menjadi 37 siswa = 94,35 %, prosentase tersebut dihitung dari jumlah keseluruhan siswa yang merespon pernyataan kuisioner dari jumlah keseluruhan sebanyak 39 siswa.
2.         Proses pembelajaran pada KD : Mengembangkan gagasan kreatif membuat aransemen lagu dengan pembelajaran model PAKEM mengalami peningkatan. Peningkatan hasil belajar dapat dilihat dari prosentase ketuntasan belajar yang meningkat 31,25 % yaitu dari hasil rata-ta nilai siswa postes siklus I score=73,23   menjadi  score rata-rata = 85,25 di postes siklus II

B.        Saran

Saran-saran yang dapat disampaikan dari hasil penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut :

1.         Proses pembelajaran menggunakan pembelajaran model PAKEM bisa diterapkan pada upaya menumbuhkan minat belajar siswa pada mata pelajaran lain dalam setiap pembelajaran meskipun dalam waktu yang relatif singkat.
2.         Pemilihan bahan ajar yang akan disampaikan  menggunakan pembelajaran model PAKEM perlu dilakukan oleh guru, dalam rangka pertimbangan efektifitas dalam pembelajaran.
3.         Kepiawaian untuk memotivasi siswa dalam setiap pembelajaran hendaknya menjadi kompetensi yang harus dimiliki guru sebelum, atau selama proses pembelajaran guna menumbuhkan minat belajar siswa.
4.         Variasi model pembelajaran, metode, serta penggunaan media hendaknya menjadi salah satu motivasi bagi siswa, sehingga aktivitas belajar lebih meningkat.
5.         Penelitian tindakan kelas hendaknya menjadi bagian yang rutin dilaksanakan oleh setiap guru secara berkala, ketika ditemukan masalah-masalah dalam proses pembelajaran di kelas.
6.         Kebiasaan untuk mengungkapkan masalah-masalah pembelajaran dalam bentuk laporan tertulis, serta upaya tindakan sebagai bagian dari penyelesaian masalah pembelajaran secara sederhana, singkat dan tepat perlu dibiasakan, sebagai acuan serta bahan perbandingan guna menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran selanjutnya. 



D A F T A R   P U S T A K A

Supardi Suhardjono, 2011. Strategi Menyusun Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Supardi Suhardjono, 2011. Publikasi Ilmiah Non Penelitian, Dalam Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi Guru. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Dr. Sulipan, M. Pd, 2010. Teknik Mudah Menyusun Karya Tulis Ilmiah. Bandung: Penerbit Eksismedia.
Moh.Ujer Usman, 1992. Menjadi Guru Profesional. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Jamaludin, M. Ed, 2003. Pembelajaran Yang Efektif (Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Siswa). Jakarta: CV. Mekar Jaya.
MGMP IPA Jakarta Timur, 2010. Jurnal Pendidikan Edisi I  Volume 3 – R 2010. Jakarta: MGMP IPA.
UHAMKA 2009. Peningkatan Profesi Guru Melalui Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan ( PAKEM ). Jakarta: Rayon 37 UHAMKA.
Mendiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ), Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas
Drs. Wasty Soemanto, M.Pd, 2006.  Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan). Jakarta:   Rineka Cipta.
Ario Kartono, dkk 2007.  Kreasi Seni Budaya Untuk SMA, Jakarta: Ganeca.
Abubakar Baraja 2008. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Studio Press
Dr. Abdul Hadis, M. Pd. 2008, Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Slameto  1988.  Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya.  Jakarta: Bina Aksara.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar