Rabu, 24 April 2019

"KISAH DA'WAH ABU HURAIRAH" Karya Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet : "Atma Kembara"
Kamis, 25 April 2019 - 07:00 WIB

DA'WAH ABU HURAIRAH
Da'wah Abu Hurah
Abu Hurairah
Abu Hurairah

“KISAH DA’WAH ABU HURAIRAH”
Karya : Ki Slamet 42

Saat  cuaca panas selimuti kota Madinah
Itu tiada surutkan langkah Abu Hurairah
Datangi pasar yang orang ramai melimpah
Dengan kesibukan dagang amatlah meriah

Tiadalah sadar matahari ‘lah sepenggalah
Waktunya shalat dzuhur hadaplah Allah
Lihat banyak orang di pasar lupa ibadah
Abu Hurairah hatinya betapalah gundah

Di tengah pedagang pasar, dia sesorah :
“Wahai kalian orang-orang Islam Madinah,
Berdosa kalian lupakan perintah Allah!”
“Dosa apa yang ‘lah kami buat, Hurairah?”

Meski marah Hurairah berseloroh ramah:
“Tahukah kalian, bahwa harta Rasulullah
‘Lah dibagi-bagi, apa kalian tak ingin jatah,
Kalian malah sibuk di sini, hayo pergilah?!”

Para pedagang senang, mereka bertanyalah:
“Dimana tempat bagi harta itu, Hurairah?”
“Tentu, di masjidlah!” Jawab Abu Hurairah”
Para pedagang itu pergi ke masjid Madinah

Tiada berapa lama mereka pun kembalilah
Amat kecewa, diprotesnya Abu Hurairah:
“Kau telah mendustai kami, Abu Hurairah,
Tiada pembagian harta di masjid Rasulullah!”

Abu Hurairah berkata, keras bersesorah:
“Apa tak lihat orang-orang di masjid, hah?”
“Kami tidak lihat orang di masjid Madinah
Sedang bagi harta peninggalan Rasulullah!”

Kecuali orang sedang membaca Al-Quran
Orang-orang sholat berjama’h berbarengan
Orang-orang berdikusi mengkaji bahasan!”
Tentang pengertian Iman, Islam, dan Ihsan

Demi mendengar jawaban pedagang pasar
Abu Hurairah berkata keras menggelegar:
“Celakalah kalian dan berdosalah besar
Sesungguhnya itulah harta Rasulullah!”

REFERENSI :
Dwi Budiyanto
“PROPHETIC LEARNING“
(Menjadi Cerdas Dengan Jalan Kenabian)
PENERBIT:
Pro – U Media 2009
 

Jumat, 12 April 2019

"PEJUANG EMANSIPASI WANITA R.A. KARTINI (21 April 1879-17 September 1904)

Blog Ki Slamet 42 : "Atma Kembara"
Sabtu, 13 April 2019 - 13:12 WIB

SOSOK PEJUANG EMANSIPASI  WANITA R.A. KARTINI
(21 April 1879 – 17 September 1904)
By Slamet Priyadi

Raden Ajeng Kartini (1879 - 1904)

Minggu, 21 April 2013 – 14:26 WIB SIAPA yang tak kenal dengan sosok Kartini? Seorang tokoh pejuang pergerakan wanita yang begitu gigih dalam memperjuangkan hak kaum perempuan untuk memiliki hak yang sama dengan kaum lelaki. Ya, Kartini tercatat dalam sejarah sebagai pejuang emansipasi wanita, pelopor kebangkitan kaum perempuan dari Jawa. Lahir di Kota Jepara pada tanggal 21 April 1879 dari seorang ibu bernama M.A Ngasirah anak dari Nyai Hajah Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur. Ayahnya seorang bangsawan Jawa, bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara putera dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV yang diangkat menjadi Bupati dalam usia 25 tahun.

R.M. Adipati Ario Sorodiningrat
Dari sebelas bersaudara kandung dan tiri, Kartini merupakan anak ke-5 dan tertua dari saudara perempuan sekandungnya yang lain bernama, Kardinah dan Roekmini. Kakak laki-lakinya bernama Sosrokartono adalah seorang yang pintar dan menguasai berbagai macam bahasa terutama bahasa Belanda. Ia banyak belajar bahasa Belanda dari kakaknya itu, dan mendapat izin untuk memperdalam bahasa Belanda di “ELS” (EuropeseLagere School) hingga usia 12 tahun sampai akhirnya dipingit karena akan dikawinkan olehK.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, Bupati Rembang.
Kartini, Kardinah, Rokmini
Penguasaan dan kepandaian Kartini dalam berbahasa Belanda, digunakannya untuk menulis surat kepada salah satu teman akrabnya, Rosa Abendanon yang berasal dari Negeri Belanda. yang banyak mengindor atau mendukung pemikiran, ide dan gagasan-gagasannya. Kegemarannya membaca, baik dari koran, majalah dan buku-buku Eropa, menambah wawasan pemikiran Kartini yang semakin luas. Inilah yang menambah semangat dan membangkitkan motivasi Kartini mewujudkan cita-citanya memajukan derajat kaum perempuan pribumi yang masih rendah status sosialnya dengan membangun sekolah pendidikan keputrian. 
Gagasan Kartini itu mendapat dukungan dari residen Semarang, Mr. Stijthof setelah membaca keritikan dari Conrad van De Venter lewat tulisan-tulisannya di majalah De Gid yang menjelaskan bahwa, “orang Belanda sangat berhutang budi pada rakyat Hindia Belanda yang telah memberikan devisa Negara yang begitu besar kepada Belanda. Dan, pemerintah colonial harus mengembalikan hutang sebesar 187 juta Gulden melalui proyek-proyek kemanusiaan, salah satunya adalah pendidikan”. )*Sri Hartatik, A.Ma.Pd. “Kumpulan Kisah Pahlawan Indonesia”hal. 66
Dalam masa pingitannya Kartini terus memikirkan, bagaimana caranya agar Ia bisa melanjutkan pendidikannya ke Batavia atau ke Eropa. Cita-cita Kartini yang paling luhur adalah berkeinginan besar untuk menjadi guru sebagaimana ucapannya, 
“Saya ingin dididik menjadi guru. Ingin mencapai dua ijazah, yaitu ijazah guru sekolah rendah dan ijazah guru kepala. Mengikuti kursus pelatihan kesehatan, ilmu balut-membalut, pemeliharaan dan perawatan orang sakit, memperdalam seni kerajinan danketerampilan serta ilmu pengetahuan yang lain”.)*ibid hal. 65
Dalam pandangan dan pemikiran Kartini, apabila kaum perempuan telah memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang luas, jika kaum perempuan telah memiliki sejumlah keterampilan sebagaimana yang dimiliki oleh kebanyakan kaum lelaki, maka akan datang masanya kaum perempuan tak lagi terikat melulu bergantung kepada kaum lelaki. Kartini menyatakan, 
“Dari kaum perempuanlah seorang manusia pertama-tama menerima pendidikan dan pembelajaran, mulai belaja rmerasa, berpikir dan belajar berkata-kata”. Kartini menegaskan pula dalam satu surat yang ditulisnya, “Bagaimana ibu-ibu Bumiputera dapat mendidik anak-anaknya jika mereka sendiri tidak berpendidikan? Dapatkah mereka, kaum ibu, dipersalahkan yang karena ketidaktahuannya, karena kelemahan dan karena kebodohannya yang tidak disadarinya itu hingga merusak masa depan anak-anaknya”.)* ibid. hal. 65

R.A. Kartini dan Suami

Belenggu tradisi adat yang telah mengikat dan berakar kuat bagi kebebasan seorang wanita di masa itu membuat keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah keputrian dan melanjutkan pendidikannya ke Eropa gagal. Akan tetapi Kartini terus mencari akal untuk bisa melanjutkan sekolahnya itu. Ayahnya tak bisa berbuat banyak untuk menentang tradisi. Meskipun Ia sangat mendukung cita-cita Kartini putrinya itu untuk mendirikan sekolah keputrian bagi kaum perempuan Bumi putera. Agar apa yang menjadi harapan Kartini dapat terkabul, ayahnya yang pada waktu itu menjabat sebagai bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat memilih dan meyakinkan Kartini bahwa calon suami yang cocok dan tepat untuk Kartini sesuai dengan harapan dan cita-citanya mendirikan sekolah keputrian bagi perempuan Bumiputera dan melanjutkan pendidikannya di Eropa, adalah Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang. Karena berdasar kesepakatan dengannya, Bupati Rembang itu akan selalu mendukung dengan apa yang menjadi cita-cita Kartini. Dan, Kartini meskipun hati nuraninya menolak, akan tetapi demi kepentingan yang lebih besar, demi kemajuan kaum wanita, pada akhirnya menyetujui juga dengan jodoh pilihan orang tuanya dikawinkan dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat yang sudah pernah memiliki istri tiga orang itu. Ya, Kartini merelakan jiwa dan raganya untuk menikah dengan orang yang sudah beristri demi cita-citanya memajukan derajat kaum perempuan seperti dirinya. 
Jelang perkawinannya, Kartini sangat merasakan dengan suatu hal yang tak bisa dirubah. Sahabat karibnya, Stella Zeehandelaar tidak bisa memahami keputusan Kartini untuk menerima lamaran Bupati Rembang yang sudah beristri lebih dari satu itu. Akan tetapi Kartini sudah mengadakan kesepakatan-kesepakatan dengan calon suaminya itu. Ia tidak akan menggunakan bahasa kromo inggil pada suaminya seperti pada kebiasaan tradisi yang dilakukan seorang istri pada suaminya di zaman itu. Kartini tidak akan membasuh kaki sang suami pada saat upacara perkawinannya kelak. Diizinkan untuk membangun sekolah keputrian untuk kemajuan bangsanya, kaum wanita.
Pelaksanaan upacara pernikahan Kartini dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat pada tanggal 12 November 1903. Suaminya ternyata sangat mengerti dengan keinginan Kartini. Bahkan Kartini diberi kebebasan dan mendapat dukungan sepenuhnya untuk mendirikan bangunan sekolah keputrian yang berlokasi di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Sekarang bangunan tersebut digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Sekolah Kartini
Di sekolah yang didirikannya ini Kartini mengekspresikan segala ide dan gagasan-gagasannya dengan leluasa karena sangat didukung oleh suaminya yang memiliki kedudukan cukup tinggi sebagai Bupati di Rembang. Di sekolah keputrian ini Kartini mengajarkan berbagai seni kerajinan dan keterampilan, kesehatan dan perawatan di samping ilmu pengetahuan yang lain.
Satu ukiran terispirasi motif Kartini
Ternyata Kartini selain dikenal dalam sejarah sebagai pejuang emansipasi wanita, Ia dikenal juga sebagai seorang seniwati. Pelopor dalam bidang disain modern, perancang seni ukir dan batik. Salah satu upaya Kartini untuk mengembangkan, merealisasikan ide dan gagasannya di sekolah kepandaian putri yang didirikannya itu dengan mengajarkan sendiri kepada murid-muridnya berbagai pengetahuan dan keterampilan terutama kerajinan ukiran dan ragam hias batik. Kemahiran dan kecakapan Kartini dalam seni ukir, seni batik dan menggambar inilah yang memotivasi Kartini untuk selalu kreatif. Mencari inovasi-inovasi baru dalam bidang seni rupa dan disain. Dalam karya-karyanya Kartini selalu berupaya memasukkan konsep-konsep keindahan dan nilai-nilai tradisi Jawa, meskipun sudah mengalami pembaharuan-pembaharuan sehingga bentuknya menjadi lebih modern. Pembaharuan ini bisa dilihat dari beberapa karya-karya Kartini seperti yang terdapat pada kotak perhiasan, pigura, kursi rotan, dan batik. Ada salah satu batik motip bunga karya R.A. Kartini yang sampai sekarang masih sangat digemari masyarakat, bahkan menjadi motif standar dijadikan acuan dasar pembuatan  seni ukir kayu Jepara yaitu motip "LunglunganBunga". Bahkan hingga kini motip lunglungan bunga menjadi ciri khas motip "Jepara Asli". 
Dari perkawinannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojoadiningrat, Kartini dikaruniai seorang putera, Anaknya yang  pertama dan sekaligus juga yang terakhir yang diberi nama, Soesalit Djojoadhiningrat yang dilahirkan pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, pada tanggal 17 September 1904, Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia relative muda 25 tahun. Jenazah R.A. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihan Kartini memperjuangkan derajat kaum wanita agar memiliki  persamaan hak dalam pendidikan, Yayasan Kartini yang didirikan oleh keluarga “Van Deventer” seorang aktifis politik etis(balas budi) di Semarang pada 1912, mendirikan sekolah Kartini di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya dengan nama   "Sekolah Kartini". 
Begitu pula seorang komponis, pahlawan nasional W.R. Soepratman pencipta lagu Indonesia Raya, menciptakan sebuah lagu khusus untuk mengenang jasa R.A. Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita yang tak kenal lelah bahkan merelakan jiwa raganya untuk kemajuan kaum perempuan melalui pendikan, diberi judul “R.A. Ajeng Kartini”. 
Referensi:
*Sri Hartatik, A.Ma,Pd “Kumpulan Kisah Pahlawan Indonesia”. Bintang Indonesia
*Slamet Priyadi, Drs. “R.A. Kartini Juga Seorang Seni Wati” Forum Guru Seni Budaya
*Agus Sachari, “Seni Rupa dan Disain” Erlangga
*Wikipedia Bahasa Indonesia, “R.A. Kartini”. google.com

Penulis:
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan - Bogor
Minggu, 21 April 2013 | 14:26 WIB

Kamis, 11 April 2019

"BIARKANLAH MEREKA NYINYIR !" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet : "Atma Kembara"
Jumat, 12 April 2019 - 10:53 WIB

Image "Joko Widodo & KH. Ma'ruf Amin
 Ir. Joko Widodo & KH. Ma'ruf Amin

"BIARKANLAH MEREKA NYINYIR !"
By Ki Slamet42

Jika di dalam diri kita sudahlah melekat
Mengkeristal bersemayam dengan kuat
Suatu perasaan antipati yang menggeliat
Maka yang paling amatlah fokus terlihat
Adalah semuanya yang buruk dan cacat

Bertopang pada referensi yang dipilihnya
Yang sesuai dan mendukung hipotesisnya
Lalu dengan suka bergibah kemana-mana
Bahkan sebar fitnah  ke  berbagai media
Tentang non fakta disulap seakan realita

Fakta kebenaran sama sekali tak terlihat
Bersilat kata penuh siasat tega menyacat
Segala kelebihan orang tiada jua terlihat
Padahal kemajuan itu telah nyata terlihat
Fakta di peloksok negeri menjogrok kuat

Tapi biarlah mereka bernyinyir pendapat
Tak perlu direspon biarlah mereka kualat
Mari berdoa agar Jokowi tetaplah sehat
 Kembali lagi ia dipercaya seluruh rakyat  
Dan menjadi Presiden NKRI yang hebat

Jumat, 04 April 2019 - 10:48 WIB
KSP42 di Pangarakan, Bogor