Minggu, 21 Oktober 2012

Pandangan Putu Wijaya Tentang "Kearifan Lokal" Oleh Joko Novarianto, S.Sn

Budayawan Putu Wijaya
SENIN, 22 OKT. 2012 -MGMP SENI SMAN 42: Siapa orang yang tak pernah mendengar tentang sosok Putu Wijaya? Saya yakin semua pernah mendengar tentang siapa, apa dan bagaimana kiprah seorang Putu Wijaya. Seorang dramawan yang berkibar dengan Teater. Ditengah kebisingan iklim yang tengah tergila-gila memprimadonakan politik dan ekonomi ini, seorang Putu Wijaya tetap harus berjuang dengan suara-suaranya yang keras dalam menghasilkan penelaahan besarnya tetang kebudayaan. Kebudayaan tradisi dan kebudayaan modern yang paling beliau teriakan terus menerus.

Putu Wijaya adalah seorang Bali yang merasa tetap harus menjaga kebudayaan yang ada secara turun-temurun itu tanpa harus diartikan sebagai kampanye pariwisata untuk memikat persoalan Bali yang makin lama semakin terdidik oleh selera turis (kebudayaan modern). Kearifan lokal dalam seni tradisi sudah terabaikan. Oleh karenanya, Putu Wijaya ingin menggapai seluruh kesenian lokal di seluruh Nusantara ini dengan kemampuannya sesuai peradaban, dengan kekayaan kebudayaan lokal yang sangat dibanggakan. Semua sudah terpatri oleh zaman yang tinggal hanya esensi-esensi yang kasat mata saja. Dimana kekayaan alam, sumber daya alam seperti: gas, minyak bumi dan lainnya di Negara kita akan menjamin masa depan. Tapi apa yang terjadi?

Dalam teater tradisi juga banyak dilihat tentang cerita-cerita kebudayaan juga cerita yang lebih berkembang lagi pada jamannya, tapi apakah hanya cerita saja yang akan dimaknainya ataukah sekarang lebih ditujukan pada moralitas. Cerita menjadi tidak penting tapi bagaimana pesan moral lebih dikedepankan dari setiap pesan dalam berbagai bidang kesenian. Itu dapat menjadikan kita sebagai bangsa yang lebih santun, sopan bertutur, berjalan, dalam mengambil sikap besar untuk kemajuan bangsa ini secara makro. Ketika konsep mulai menglobal dan orang mulai menjaring jala-jala kemordenisasian apakah masih ada perlunya kita bicara tentang tradisi! Bukankah manusia hanya menjadi manusia dunia di alam global ini.

 Pertanyaan yang membuat kita semua memulai bahkan harus mengambil sikap lebih bijak tentang akan dikemanakan tradisi/kebudayaan kita esok. Pada tujuan pendidikan jelas termaktub bahwa, pendidikan Indonesia adalah pendidikan yang cerdas dan kompetitif yang merupakan hak semua warga/ masyarakat Indonesia seluruhnya. Menurut peryataan ini ada sebuah kecenderungan yang nantinya akan lebih menimbulkan kecemburuan yang sangat besar terhadap masyarakat itu sendiri. Pada saat anak-anak kita sudah masuk kedunia global dan terdidik dengan kecerdasan yang kompetitif secara keseluruhan berikut doktrin-doktrin yang diterimanya, tapi mereka tidak berjalan berdampingan dengan orang yang tidak mendapatkan perlakuan yang demikian itu yang membuat masyarakat kita cemburu bahkan lebih dari itu saling curiga dan bisa saling menyakiti. Oleh karenanya kecerdasan yang dibutuhkan harus lengkap selain kemampuan untuk otak maka perlu juga untuk mengisi bathin mereka yang nantinya mereka dapat menjaga/ menemukan nilai-nilai kebudayaan. Kearifan lokal tetap selalu menjadi akar budaya kita yang wajib dipelihara serta diwarisi dari kita oleh kita dan untuk kita , bangsa Indonesia. Salam Budaya

 )* Putu Wijaya adalah Penerima penghargaan dari Akademi Jakarta 2009, Gedung Graha Bakti, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin, 21 Desember 2009 ( Joko Novarianto, S.Sn )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar