Rabu, 19 Juni 2019

"MENGKAJI EMOSI DALAM DIRI" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : "Atma Kembara"
Rabu, 20 Juni 2019 - 08:00 WIB

Image "Marah" (Foto: Google)
Marah
“MENGKAJI EMOSI DALAM DIRI”
Karya : Ki Slamet 42

Ada perasaan tertentu di dalam diri kita
Bersemayamlah kuat berada di dalam jiwa
Dialah sikap dan perilaku sehari-hari kita
Sang rasa emosi diri yang berwarna-warna
Senang, sedih, gembira, benci, dan cinta

Emosi dan rasa, tiada jelas perbedaannya
Dia itu hanyalah gejala emosional semata
Suatu saat emosi itu sikap yang menjelma
Bisa dibilang emosi rasa yang mengemuka
Ba’ marah dicurah dalam diam tak bicara

Saat kita emosi pasti ada perubahan raga
Menjadilah tanda gambaran suasana jiwa
Ba’ elektris kulit bangkit ketika terpesona
Bernafaslah panjang di saat alami kecewa
Saat kita merasa takut berdiri bulu roma

Ketika marah cepatlah peredaran darah
Terkejut denyut jantung pun bertambah
Saat alami ketegangan otot bergetarlah
Lidah terasa kelu, air liur pun keringlah
Kelenjar aktif komposisi darah berubah

Kita memang harus mampu kelola emosi
Pastikan rasa agar tercurah terekspresi
Hal itu bergantung pada kesadaran diri
Akan berhasil dikelola jika hiburlah diri
Melawan rasa takut lalu bangkit kembali

—KSP42—
Sabtu, 15 Juni 2015 – 14:02 WIB
Bumi Pangarakan, Lido – Bogor
 

Selasa, 11 Juni 2019

"MERENGKUH CURUG TUJUH" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : "Atma Kembara"
Rabu, 12 Juni 2019 - 13:14 WIB

Curug Tujuh
“MERENGKUH CURUG TUJUH”

By Ki Slamet 42

Aku melenggang ke desa Cibolang
Ke Curug tujuh saat libur panjang
 ‘Tuk sirnakan segala rasa sumelang
Cari uang dari pagi hingga petang
Demi hidupi keluargaku tersayang

Curug Tujuh di kaki gunung Sawal
Di kabupaten Ciamis yang terkenal
Dengan obyek wisata alam orisinal
Ke sana tak keluarkan biaya mahal
Sekali menjajal hati akan terganjal

Perjalanan nan lelah sirna seketika
Ketika masuk lihat lukisan alamnya
Uap putih air terjun sejuklah terasa
Sebarlah udara dingin tiada terkira
Sirnakanlah keringat di tubuh kita

Wisata Curug Tujuh masih alamiah
Keadaan air terjunnya sangat indah
Air dari ketinggian jatuh ke bawah
Suara gemuruh air terjun melimpah
Pesonalah bagi yang datang singgah

Ketinggian curug pertama, kedua
Sampai pada ke curug kelima sama
Bedanya tinggi semakin rendah jua
Di sini, visitor bisa mandi bersama
Di kolam kecil menyerupai belanga

Aku jalan sepanjang lima kilo meter
Teruslah mendaki dan mutar-muter
Hingga curug enam tujuh kusamper
Jernihnya air perigi buat aku baper
Melihatnya pengunjung pasti ngiler

Curug Tujuh dihiasi hutan perawan
Yang menjulang tinggi asri menawan
Air terjunnya teruslah berseliweran
 Meskipun kemarau berkepanjangan
Ya, Curug Tujuh t’lah jadi tumpuan

Masyarakat Cibolang Panjalu Ciamis
Jaga dan rawat dengan rasa optimis
Supaya Curug Tujuh tetaplah manis
Banyak didatangi pengunjung merilis
Kepenatan kerja yang buatlah histris

Untuk ke lokasi wisata Curug Tujuh
Bisa menggunakan kendaraan kayuh
Motor mobil juga baguslah diunduh
Agar cepat capailah tempat meluruh
Nikmati jernih air terjun curug tujuh

Pabila anda ingin berkunjung ke sana
Lewat kota Kawali lebih baik adanya
Arah Panjalu stoplah di Cibolang saja
Lalu masuklah ke lokasi obyek wisata
Atau lewat Majalengka ke Winduraja

—KSP42—
Selasa, 1 Juni 2019 – 11:23 WIB
Bumi Pangarakan, Lido -Bogor 
 

Sabtu, 08 Juni 2019

"ORANG TUA GILA DALAM MIMPI" By Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : "Atma Kembara"
Minggu, 09 Juni 2019 - 08:18 WIB

Image "Oran Tua Gila 1 (Foto: SP)
Orang Tua Gila 1

Image "Orang Gila 2 (Foto: SP)
Orang Gila 2
“ORANG TUA GILA DALAM MIMPI”
By Ki Slamet 42

Orang gila itu bertubuh lusuh dan kumal
Berambutlah panjang gimbal menggumpal
Meski wajah kotor tapi tubuhnya gempal
Tidurlah berbaring di emper toko sandal
Di Pasar Ciawi yang penuh sesak berjejal

Sejak pukul lima pagi sampailah sore hari
Orang gila itu tak jua mau beranjak pergi
Tiada seorangpun yang peduli dan empati
Pada nasib orang gila itu yang barang kali
Rasa haus, dan lapar tak makan dari pagi

Sementara itu, jalan raya Ciawi-Sukabumi
Kendaraan kampanye Pilpres dan legislasi
Memuat kemacetan semakin menjadi-jadi
Di tengah banyak kendaraan aku  menepi
Mengampiri orang gila itu lalu aku salami

Aku menyapanya, tapi dia diam membisu
Tapi matanya nanar mendelik kepadaku
Seperti marah karena merasa terganggu
Sesaat kemudian ia duduklah berpangku
Tangan bertopang di dagu menatap aku

Tiada pedulikan suara bising kendaraan
Meskilah hatiku rasa bergidik gemetaran
Aku coba duduk di sisinya sapa perlahan
“Pak, dari pagi di sini, apa sudah makan?”
Dia  hanya gelengkan kepalanya perlahan

Kuambil sebungkus nasi dari dalam tasku
Kutawarkan kepadanya, ia tetap membisu
“Pak, ini nasi rames, silahkanlah dimakan!”
Orang gila itu tetap gelengkan kepalanya
Seraya menjawab, suaranya terbata-bata:

“Nak, te...terimakasih atas perhatiannya
Sungguh, saya sudah tak butuh makan!”
Mendengar jawabannya, aku jadi heran:
“Jika begitu, ini sedikit uang ‘tuk bapak,
Semoga lebih berguna ‘tuk bapak kelak?”

Aku ambil uang seratusribuan dari saku
Kusodor ke tangannya yang terasa kaku
Ba’ sentuh tulang t’rasa dingin membeku
Tiada kulit yang membungkusnya di situ
Tetapi aku jadi bertanya di dalam kalbu:

Orang gila itu menolak uangku, berkata:
“Nak, Bapak sudahlah tak butuh apa-apa
Berikan uang itu tuk keluarga anak saja!
Bapak do’akan semoga anak dan keluarga
Diberi rizqi dari Allah Yang Maha Kuasa!”

Mendengar do’a orang tua itu aku berkata:
“Oya, jikalah demikian terimakasih atas do’a
Bapak kepada saya dan pula keluarga saya!
Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya
Jika ada kata-kata saya tak patut adanya!”

Kemudian aku segera tinggalkan orang itu
Baru selangkah berjalan dari orang tua itu
Orang yang melihatku, bertanya kepadaku:
“Maaf, tadi bapak bicara sendirianlah saja,
Dengan siapa tadi bapak ngobrol, bicara?”

Pertanyaan itu, membuatku heran jadinya
Aku tengok ke ke arah tempat aku bicara
Mengobrol dengan orang tua gila di sana
dan, di sana memang tak ada siapa-siapa
Aku tak habis pikir, dan bertanya-tanya

Siapa sebenarnya, dan kemana orang tua
yang hilang lenyap pun gaiblah begitu saja
Orang yang bertanya gelengkanlah kepala
Sejenak barulah aku temukan jawabannya
Rupanya hanya aku saja yang melihat dia  

Hi,hi, hi, hi, hi, daku jadi tertawa sendiri
Merasa geli dalam hati jikalah menyadari
Aku sendiri orang gilanya di Pasar Ciawi
Duduklah sendiri, dan bicaralah sendiri
Aku kucak mata, ternyata aku bermimpi

—KSP42—
Sabtu, 08 April 2019 – 13:04 WIB
Bumi Pangarakan, Lido – Bogor