"Sobatku setanah air, sebangsa, dan sebahasa! Yok, kita bangun Negara Republik Indonesia, Yok, kita amalkan bersama nilai-nilai Pancasila yang Bhineka Tunggal Ika, meski berbeda-beda tetapi tetap satu juga!!!"
Selasa, 09 Oktober 2012
MEMBUAT UKIRAN MENGKILAP DAN BERCAHAYA Oleh Sita
MEMBUAT TEGEL MOSAIK
Bahan dan alat :
1. Beling pecahan kaca atau piring yang beraneka macam warna
2. Kertas bekas kantong semen
3. Semen putih atau abu-abu
4. Lem kayu
5. Cetakan kayu
6. Sendok semen kecil yang biasa dipakai untuk menembok
7. Tempat adukan semen
Cara membuatnya :
1. Siapkan kertas kantong semen dengan ukuran 22 x 22 cm
2. Gambarlah sebuah bujur sangkar berukuran 20 x 20 di atas kertas semen tersebut sehingga gambar bujur sangkar itu dilingkungi bidang yang lebarnya satu senti meter dari tepi kertas
3. Susunlah beling-beling pecahan kaca pada bidang bujur sangkar tadi dengan komposisi yang harmonis dan susunan yang indah. Hendaknya dalam menyusun pecahan kaca jangan terlalu rapat, agar celah-celah potongan kaca bisa dimasukkan adukan semen, kemudian rekatkan beling-beling kaca padakertas semen.
4. Taruhlah cetakan di atas susunan pecahan-pecahan kaca beling itu secara tepat
5. Aduklah adukan semen dengan tingkat kekentalan yang tepat agar lebih mudah menuangkannya dan dapat mengisi celah-celah pecahan beling kaca yang telah direkatkan pada kertas semen tadi
6. Tuangkan adukan semen ke dalam cetakan dan tusuk-tusukkan dengan sendok semen
7. Lepaskan cetakan secara hati-hati
8. Balikkan tegel ini, dan lepaskan kertas alas disainnya dengan disiram air sambil digosok-gosok sampai kertasnya terkelupas
9. Sebelum adukan semen mongering, keriklah permukaan tegel sampai bersih benar dengan sendok semen
Gambar Proses Membuat Tegel Mosaik
Sabtu, 15 September 2012
"KONTEMPLASI DALAM RIUH" Sunday, 16 September 2012
Spiritual pelukis Andi Suandi menampilkan karya yang lebih mengemukakan ekspresi spiritual itu tresaji lewat percampuran warna dan goresan andi melalui karya-karyanya. Pameran ini berlangsung 7-17 September 2012 di Galeri Cipta II TIM.
Andi Suandi menggelar pameran tunggal abstrak yang menyajikan sebuah potret peradaban. Dalam balutan riuh warna, pelukis ini berusaha berkontemplasi dan merefleksikan spirit peradaban.
Renungan spiritual sepanjang karier pelukis abstrak Andi Suandi dituangkan dalam pameran tunggal Per”Adab”an Spiritual. Sebuah pameran abstrak yang banyak mengais adab spiritualisme jiwa dan pikiran Andi. Setahun lalu pameran tunggal Andi di Galeri Nasional menyiratkan ragam karya abstrak yang lebih kontemplatif.
Renungan dari dalam jiwa itu dituangkan dalam percampuran warna-warna yang lebih bersifat tenang dan menyejukkan. Kala itu pameran tunggal bertajuk From Zero to Zerojuga banyak eksplorasi karya dengan berbagai macam medium. Medium dari bahan seng atau barangkali bekas penutup drum, dipakai untuk melengkapi pameran From Zero to Zero. Pun demikian dengan karya lainnya, lebih banyak bersifat kontemplasi yang tenang.
Pameran tunggal Per”Adab”- an Spiritualyang digelar di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM),dari 7-17 September 2012 barangkali sedikit berbeda. Renungan-renungan spiritual Andi masih terbaca lewat goresan- goresan cat yang terlihat di atas kanvas. Bedanya, proses perenungan itu sudah mencapai ke sebuah tingkatan yang lebih tinggi.
Karya Andi Suandi kali ini lebih ekspresif, dengan warnawarna yang terang dan beragam. Meski demikian,unsur monokrom yang menjadi ciri Andi Suandi dalam lukisan-lukisan abstraknya masih terlihat. “Proses kali ini lebih banyak berisi renungan spiritual,namun lebih ramai di luar daripada ramai di dalam,”kata Andi.
Keriuhan di luar,seperti kata Andi,bisa dilihat dalam beragam karya yang dia pamerkan. Keriuhan ini sangat terasa lewat banyaknya warna yang terlihat dalam setiap lukisan. Karya lukisan berjudul Adab 7,misalnya.Lukisan berukuran 140x40 cm dengan tiga panel acrylic di atas kanvas ini begitu riuh dengan goresan-goresan tangan Andi.Warna-warni yang tercampur juga terlihat riuh seperti putih,hijau,cokelat,hingga kuning.
Namun unsur monokrom dalam lukisan yang jadi dominan tetap terjaga. Demikian pula pada Adab 5. Dalam karya berukuran 100x100 tiga panel acrylic di atas kanvas ini menghasilkan perpaduan yang sangat pas.Meski terlihat gelap,kegelapan dalam adab ini barangkali jadi pikiran Andi lewat ekspresi percampuran dan goresan-goresan tangannya.Sekali lagi,Andi tetap menjaga dominasi warna dalam setiap karya miliknya.
Andi Suandi mengakui,bahwa karya kali ini terlihat lebih riuh dengan goresan-goresan yang ekspresif. Jika dulunya masih terlihat kontempelatif, kini karyanya tampak lebih ekspresif.“ Perenungan ini justru menghasilkan guratan karya yang lebih ekspresif. Karena memang itu yang saat ini sedang saya rasakan,”tandas Andi.
Untuk pameran ini, selain menghadirkan karya-karya ekspresif dalam seri adab, Andi menghadirkan beberapa karya sebelumnya yang tersaji dalam pameran From Zero to Zero.Alasannya, masih memiliki keterikatan dengan perenungan peradaban spiritual. Andi Suandi dikenal sebagai pelukis yang produktif dalam menggelar pameran tunggal. Sedikitnya dia akan berpameran sekali dalam setahun.
Sejak 1999 hingga 2012 ini Andi terus menggelar pameran tunggal. Belum ditambah dengan puluhan kali ikut dalam pameran bersama dengan pelukis- pelukis abstrak lain atau saat pameran besar lain. Terakhir pameran From Zero to Zeromenjadi salah satu pamerannya yang cukup sukses. Tema yang diangkat kala itu pas dengan kondisi zaman dan persoalan yang tengah melingkupi.
Namun, karya-karyanya masih banyak didominasi oleh keragaman warna yang lebih bersifat kontempelatif. Untuk pameran kali ini,apa yang sudah Andi lakukan seolah tak hanya mengeksplorasi pencapaian nilai estetik belaka.
Lebih dari itu,Andi lebih banyak memaknai pameran ini melalui karya yang memiliki nilai-nilai religius yang terkandung dalam pengalaman hidup dan terinteraksi dengan ayat-ayat kauniyah– menyatu dalam lukisannya.
Selain memamerkan karya lukisan abstrak, dalam kesempatan ini Andi juga meluncurkan buku Dari Nol ke Nol, berisi perenungan Andi terhadap dunia seni lukis abstrak di Tanah Air dalam kacamatanya. ● sofian dwi
Jumat, 14 September 2012
Banyak Guru tak Bisa Operasikan Internet
RABU, 01 AGUSTUS - REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA : Kalangan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Tengah menyatakan prihatin masih banyak guru yang gagap teknologi saat mengikuti uji kompetensi guru secara "online".
"Dari hasil ujian hari pertama banyak guru yang tidak bisa mengoperasionalkan fasilitas internet, terutama guru yang sudah lanjut usia," kata Kepala LPMP Kalteng Krisnayadi Toendan di Palangka Raya, Rabu.
Inilah yang harus disikapi oleh Dinas Pendidikan kabupaten/kota agar bisa memberikan pelatihan dengan memprogramkan kegiatan, sehingga ke depan tidak ada lagi guru yang tidak mengerti kemajuan teknologi moderen ini.
Dia menyatakan percuma dan tidak akan ada gunanya dibuat serta diprogramkan pelatihan kalau kemauan para guru untuk belajar dan memahami komputer sama sekali tidak ada, meski hampir semua sekolah di daerah itu telah memiliki komputer.
Menurutnya pelaksanaan UKG online itu tidak hanya dalam upaya mengukur kemampuan guru dalam bidang keilmuan, namun juga adalah untuk menguasai informasi teknologi (IT).
Seharusnya guru yang sudah memiliki sertifikasi dan menerima tunjangan profesi dapat memanfaatnya tunjangan yang ada untuk meningkatkan kemampuan baik kursus komputer, diklat maupun yang berguna meningkatkan kompetensi.
Akan tetapi justru sebaliknya, kebanyakan guru mempunyai pola pikir, tunjangan sertifikasi digunakan hanya untuk kebutuhan konsumtif.
Pada pelaksanaan UKG hari pertama terkendala selama satu jam karena harus menunggu server pusat terhubung ke lima titik sekolah penyelenggara, sehingga diambil kebijakan tidak mengganggu jadwal guru angkatan pertama, tidak lagi memakai patokan waktu selama 120 menit.
"Yang penting hak guru dengan waktu 120 menit terpenuhi, sehingga molor sampai malam hari, dan diperintahkan di seluruh kabupaten/kota agar menunggu,"tuturnya.
Sejak awal memang sudah disadarinya, kebanyakan guru yang belum menguasai komputer, dari pedoman yang ada 15 menit untuk latihan dan arahan, akan tetapi waktu yang diberikan tidak cukup, minimal 35 menit waktu yang dibutuhkan.
UKG online baru pertama kali ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bertujuan untuk melakukan pemetaan guna memberikan pembinaan kepada guru yang nantinya dinyatakan tidak lulus, bukan untuk menarik tunjangan sertifikasi.
Redaktur: Taufik Rachman
Sumber: antara
Berita Terkait:
Uji Kompetensi Diikuti 3.251 Guru di Lombok
Katy Perry Ingin Internet Mati
Server Kemendiknas Ngadat, Uji Kompetensi Guru Urung Dilakukan
Uji Kompetensi Guru tak Pengaruhi Tunjangan
Reni: Tak Ada Jaminan UKG Tingkatkan Kompetensi Guru
Jumat, 31 Agustus 2012
"5 ( LIMA ) M" Oleh Slamet Priyadi
SLAMET PRIYADI
( MGMP SENI BUDAYA SMAN 42 – Jumat, 31 Agustus 2012)
1.
Mengajar harus dengan persiapan yang
matang baik persiapan kognitif, afektif dan psikomotorik.
2. Mengajar harus terencana,
terstruktur, interaktif, inovatif, dan efektif. Terutama dalam intonasi, dan
artikulasi. Ucapan vocal harus keras dan jelas.
3. Mengajar harus disajikan
melalui pendekatan psikologis, individual dan social
4. Mengajar harus dengan
strategi, metode, dan alat bantu (media) pembelajaran
5. Mengajar harus ada evaluasi baik evaluasi
kepada siswa maupun kepada diri sendiri sebagai guru. Hal ini dilakukan sebagai
koreksi ke dalam. Sampai sejauh manakah materi pembelajaran bisa ditangkap
siswa, dan sampai sejauh mana pengembangan serta peningkatan kemampuan guru
dalam mengajar.
Jumat, 03 Agustus 2012
KATA KERJA OPERASIONAL KOGNITIF (PPK)
PENGETAHUAN (C1)
|
PEMAHAMAN (C2)
|
PENERAPAN (C3)
|
Mengutip
Menyebutkan
Menjelaskan
Menggambar
Mendeskripsikan
Membilang
Mengidentifikasikan
Mendaftarkan
Menunjukkan
Memberi label
Memberi indek
Memasangkan
Menamai
Menandai
Membaca
Menyadari
Menghafal
Meniru
Mencatat
Mengulang
Mereproduksi
Meninjau
Memilih
Menyatakan
Mempelajari
Mentabulasi
Memberi kode
Menelusuri
|
Memperkirakan
Mengkategorikan
Mencirikan
Merinci
Mengasosiasikan
Membandingkan
Menghitung
Mengkontraskan
Mengubah
Mempertahankan
Menguraikan
Menjalin
Membedakan
Mendiskusikan
Menggali
Mencontohkan
Menerangkan
Mempolakan
Memperluas Menyimpulkan
Menjabarkan
Meramalkan
Merangkum
|
Menugaskan
Mengurutkan
Menentukan
Menerapkan
Menyesuaikan
Mengkalkulasikan
Memodifikasi
Menghitung
Membangun
Membiasakan
Mencegah
Menggambarkan
Menggunakan
Menilai
Melatih
Menggali
Mengemukakan
Mengadaptasi
Menyelidiki
Menyusun
Mengkonsepkan
Mengoperasikan
Memproses
Mensimulasikan
Melakukan
Memproduksi
Mengaitkan
Mendiskripsikan
|
ANALISIS (C4)
|
SINTESIS (C5)
|
PENILAIAN (C6)
|
Menganalisis
Mengaudit
Menegaskan
Mendeteksi
Mendiagnosis
Menyeleksi
Memerinci
Menominasikan
Mendiagramkan
Mengkorelasikan
Merasionalisasikan
Menguji
Mencerahkan
Menjelajah
Membagankan
Menemukan
Menelaah
Memaksimalkan
Memerintah
Mengedit
Mengaitkan
Memilih
Mengukur
Melatih
Mentransfer
|
Mengabstraksikan
Mengatur
Menganimasikan
Mengumpulkan
Mengkode
Mengkombinasikan
Mengarang
Membangun
Menanggulangi
Menghubungkan
Menciptakan
Mengkreasikan
Mengoreksi
Merancang
Merencanakan
Mendikte
Meningkatkan
Memperjelas
Memfasilitasi
Membentuk
Merumuskan
Menggabungkan
Memadukan
Menampilkan
Menyiapkan
|
Menilai
Mengarahkan
Mengkritik
Menimbang
Memutuskan
Memisahkan
Memprediksi
Memperjelas
Menegaskan
Menafsirkan
Mempertahankan
Memerinci
Mengukur
Membuktikan
Memvalidasi
Mengetes
Mendukung
Memilih
Memproyeksikan
|
Senin, 09 Juli 2012
"DA'WAH ISLAM DALAM MUSIK GAMELAN" By Denmas Priyadi
![]() |
| Seperangkat gamelan sedang dimainkan |
SABTU, 10 JULI 2012 - Denmas Priyadi Blog : Musik gamelan yang diciptakan oleh para Wali di zaman Islam sesungguhnya berfungsi sebagai media da’wah, yaitu mengajak masyarakat untuk masuk agama Islam. Artinya, tujuan utama dari penciptaan musik gamelan tersebut bukan hanya untuk hiburan semata, tetapi juga sebagai sarana dawah Islam. Oleh karena itu ciri khas dari bunyi instrument musik gamelan tersebut mengandung makna tertentu yang berisi ajakan kepada manusia untuk masuk dan mempelajari, dan melaksanakan ajaran Islam. Bunyi dari setiap instrument tersebut juga diciptakan sedemikian rupa, dibuat mirip
dengan kata dalam bahasa Jawa seperti contoh berikut:
1. Kenong
Instrument musik gamelan ini apabila dibunyikan akan bersuara, “Nong; Nong; Nong” ( Nong kono ).
2. Sharon
Jika dibunyikan alat musik ini akan bersuara, “Ning; Ning; Ning” ( Ning kene )
3. Kempul
Instrument musik kempul jika dimainkan berbunyi, “Pung, Pung, Pung”( Pul, atau kumpul )
4. Kendang
Instrument kendang jika dipukul akan berbunyi, “Ndang; Ndang; Tak; Ndang-Ndang” ( dhang, berarti hayo segera )
5. Genjur
Instrument musik genjur ini jika dipukul akan mengeluarkan bunyi, “Ghur; Ghur”( ghur, berarti nyegur atau masuk ).
Bunyi suara dari kelima instrument tersebut di atas apabila dihubungkan menjadi satu akan membentuk kalimat sebagai berikut :
“Yo nong kono, yo ning kene, ayo podo kumpul, ayo podo kumpul. Yen ditak, dikon, diperintah, ending-endang wae pada tandang. Kabeh wae podo njegur”.
Instrument Genjur dibunyikan pada pukulan terakhir di kalimat lagu. Artinya, pada akhirnya semua yang di sana dan di sin hayo masuklah ke dalam agama Islam. Jelasnya adalah baik yang di sana, di situ, dan di sini, marilah kita berkumpul. Apabila diperintah, segera kerjakan. Hayo masuklah untuk memeluk Agama Islam! (Refernsi : Moch. Machin, Majalah Penyuluh Agama, th.VII/59, hal.33.)
Menurut Prof.Abdullah Sigit, bunyi "neng - ning - nung - nang" pada instrumen gamelan mengandung makna sebagai berikut: 1. Neng bermakna meneng (diam). 2. Ning ( bening). artinya,dengan sikap meneng yang kita miliki lalu jiwa menjadi jernih (bening), 3. Nung (demunung). artinya, setelah kejernihan tercapai maka kita akan mampu menempatkan segala permasalahan dalam jiwa kita pada tempat yang sewajarnya, 4. Nang (menang), jika semuanya itu mampu kita jalani, mampu kita kuasai (Meneng, bening, demunung), maka jiwa kita akan merasa tenang karena kita mampu menguasai jiwa kita sendiri (menang). Referensi : Prof. Drs. Abdullah Sigit: “Situasi Negara Kita Ditinjau Dari Sudut Ilmu Sosial”. Majalah Criterium No.10 th.IV, hal.6
Langganan:
Postingan (Atom)





